Larangan Nikah Mut’ah (Kawin Kontrak)

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib r.a, bahwa Rasulullah saw. melarang nikah mut’ah pada perang Khaibar dan melarang memakan daging keledai peliharaan, (HR Bukhari [4216] dan Muslim [1407]).

Diriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Sabrah al-Juhani, dari ayahnya bahwa Rasulullah saw. melarang nikah mut’ah. Rasululalh saw. bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya nikah mut’ah itu haram mulai sekarang sampai hari kiamat. Barangsiapa yang telah memberikan sesuatu (yakni) upah maka janganlah ia mengambilnya kembali,”

(HR Muslim [1406]).

Kandungan Bab:

1. Pengharaman nikah mut’ah sampai hari kiamat. Pembolehan yang diberikan kepada mereka telah dihapus berdasarkan kesepakatan ahli ilmu dari kalangan ahlus sunnah wal jama’ah.
2. Fatwa Abdullah bin Abbas r.a. yang membolehkannya maka beliau telah meralatnya. Telah diriwayatkan secara shahih, bahwa beliau telah meninjau ulang pendapat tersebut dan telah shahih pula bahwa kemudian beliau melarangnya.
3. Nikah mut’ah adalah menikahi seorang wanita dengan mahar (upah) sedikit maupun banyak sampai batas waktu tertentu.
4. Kaum Rafidhah Syi’ah membolehkan nikah mut’ah dan menjadikannya sebagai dasar agama mereka.
1. Mereka jadikan sebagai rukun iman, mereka menyebutkan bahwa Ja’far ash-Shadiq mengatakan, “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak mengimani adanya ruj’ah dan tidak menghalalkan nikah mut’ah,” (lihat Wasaa’il Syi’ah (IV/438).
2. Mereka beranggapan bahwa nikah mut’ah merupakan pengganti dari minuman yang memabukkan. Merek meriwayatkan dari Muhammad bin Muslim dari Abu Ja’far bahwa ia berkata, “Sesungguhnya Allah telah menyayangi kamu dengan menjadikan nikah mut’ah sebagai pengganti bagi kamu dari minuman keras,” (lihat Wasaa’il Syi’ah (IV/438).
3. Mereka tidak hanya membolehkan saja, bahkan mereka menjatuhkan ancaman yang sangat keras bagi yang meninggalkannya. Mereka berkata, “Barangsiapa yang meninggal dunia sedang ia belum melakukan nikah mut’ah maka ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan terpotong hidungnya,” (Manhajus Shaadiqin, Fathullah al-Kasyaani, hal. 356). Lagi

Iklan

Larangan Menyetubuhi Wanita Pada Duburnya

Diriwayatkan dari Khuzaimah bin Tsabit r.a, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak malu dalam menerangkan kebenaran, janganlah kalian menyetubuhi wanita pada duburnya,” (Shahih, HR Ibnu Majah [1924] dan Ibnu Hibban [4198]).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa mendatangi dukun dan membenarkannya atau menyetubuhi wanita yang sedang haidh atau menyetubuhi wanita pada duburnya maka ia telah terlepas dari ajaran yang diturunkan kepada Muhammad saw,”

(Shahih, HR Abu Dawud [3904] dan at-Tirmidzi [135]).

Diriwayatkan dari Amru bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya bahwa Rasulullah saw. ditanya tentang laki-laki yang menyetubuhi isterinya pada duburnya. Rasulullah saw. bersabda, “Itu adalah sodomi kecil,” (Hasan, HR Ahmad [II/182] dan al-Baihaqi [VII/198]).

Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir r.a, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah melaknat laki-laki yang menyetubuhi wanita pada dubur mereka,” (Shahih ligharihi, HR Ibnu Adi dalam al-Kamil [1466] dan Ahmad [II/444]).

Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas r.a, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Allah tidak akan melihat pada laki-laki yang menyetubuhi wanita pada duburnya,” (Hasan, HR at-Tirmidzi [1165] dan Ibnu Hibban [4203]).

Dalam hal ini diriwayatkan pula sejumlah hadits dari sejumlah sahabat, diantaranya adalah Umar, Ali bin Thalq bin Abdillah r.a. Akan tetapi sanadnya masih perlu dibicarakan lagi. Lagi

Larangan Nikah dengan Pelacur Atau Pezina

Allah SWT berfirman, “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin,” (An-Nuur: 3).

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru r.a, bahwa Martsad bin Abi Martsad al-Ganawi adalah seorang laki-laki yang keras. Ia membawa tawanan dari Makkah ke Madinah. Ia berkata, “Aku membawa serta seorang laki-laki untuk menyertaiku. Dahulu di kota Makkah ada seorang pelacur yang bernama ‘Anaq. Dan ia dahulu adalah pelanggannya. ‘Anaq keluar dari rumahnya. Ia melihat bayanganku di tembok. Ia berseru, “Siapa itu? Martsad? Selamat datang marhaban, ahlan wa sahlan hai Martsad. Mari sini bermalam di tempatku” Aku (Martsad) berkata, “Hai ‘Anaq, sesungguhnya Rasulullah saw. telah mengharamkan zina.” ‘Anak malah berteriak, “Hai penghuni kemah ini, ini ada duldul, dialah yang membawa tawanan kalian dari Makkah ke Madinah!”

Aku pun lari ke gunung Khandamah. Delapan orang mengejarku. Mereka menemukan tempatku dan berdiri tepat di atas kepalaku. Mereka mengencingiku dan kencing mereka tepat mengenaiku. Namun Allah menghalangi pandangan mereka terhadapku. Lalu aku pun menemui temanku tadi dan membawanya. Sesampainya di al-Araak aku membuka rantainya.

Kemudian aku menemui Rasulullah saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkan aku menikahi ‘Anaq?” Rasulullah hanya diam saja. Lalu turunlah, “Dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina, atau laki-laki musyrik,” (An-Nuur: 3). Lagi

Larangan (Anjuran) Agar Tidak Menikahi Wanita Mandul

Diriwayatkan dari Ma’qil bin Yasar r.a, ia berkata, “Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah saw. dan berkata, ‘Sesungguhnya aku mencintai seorang wanita yang terpandang dan cantik. Namun sayang ia mandul, bolehkan aku menikahinya’?” Rasulullah menjawab, “Tidak!”

Kemudian laki-laki itu datang lagi untuk kedua kalinya namun Rasulullah saw. tetap melarangnya. Kemudian ia datang lagi untuk ketiga kalinya. Maka Rasulullah saw. bersabda, “Nikahilah wanita yang penyayang lagi subur, sesungguhnya aku berbangga dengan jumlah kalian di hadapan umat-umat lain,” (Shahih, HR Abu Dawud [1050] dan Ibnu Hibban [4056]).

Kandungan Bab:

1. Larangan menikahi wanita yang tidak bisa punya anak (mandul), seperti diketahui ia tidak haidh atau ia pernah punya suami lain tetapi tidak punya anak.
2. Perkawinan mempunyai beberapa tujuan syar’i diantaranya adalah menahan pandangan, menjaga kemaluan dan memperbanyak jumlah ummat Islam. Jadi setiap perkawinan yang bertentangan dengan salah satu tujuan-tujuan ini dilarang.

Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi’i, 2006), hlm. 3/38-39.

Larangan Menikahi Gadis atau Janda Tanpa Kerelaan dari Keduanya

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, bahwa ia menceritakan kepada mereka bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Tidak boleh menikahi janda sebelum dimintai persetujuannya dan tidak boleh menikahi gadis hingga dimintai izinya.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana izinnya?” Rasul menjawab, “Izinnya adalah diamnya,” (HR Bukhari [5136] dan Muslim [1419]).

Kandungan Bab:

1. Haram hukumnya memaksa janda atau gadis untuk menikah tanpa kerelaan dari keduanya.
2. Syari’at membedakan antara janda dan gadis dalam mengetahui kerelaannya. Janda harus ada izin yang jelas darinya. Sedangkan gadis izinnya adalah diamnya. Karena ketidak perawanan menyebabkan hilangnya rasa malu yang biasanya ada pada seorang gadis.
3. Meminta izin kepada gadis perawan atau janda merupakan syarat sahnya aqad, karena Rasulullah saw. membatalkan nikah Khansa’ binti Khidam al-Anshariyah yang dinikahkan oleh ayahnya sedang ia adalah seorang janda. Namun ia tidak rela dan ia mendatangi Rasulullah saw., lalu beliu membatalkan nikahnya.
4. Rasulullah saw. menjadikan tanda izin seorang wanita antara ungkapan kata-katanya atau diamnya, beda halnya dengan persetujuan yang harus diungkapkan dengan kata-kata yang jelas.

Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi’i, 2006), hlm. 3/43-44.

Larangan Memukul Isteri dengan Pukulan yang Kuat yang Menimbulkan Rasa Sakit

Diriwayatkan dari Abdullah bin Zam’ah r.a, dari Rasulullah saw. beliau bersabda, “Janganlah salah seorang dari kamu memukul isterinya seperti memukul budak kemudian ia menyetubuhinya di akhir siang (malam hari),” (HR Bukhari [5204] dan Muslim [2855]).

Diriwayatka dari ‘Amru bin al-Ahwash r.a, bahwa ia menyaksikan haji wada’ bersama Rasulullah saw., Rasul mengucapkan puja dan puji kepada Allah, memberi peringatan dan nasihat. Lalu Amru menyebutkan kisahnya bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Ingatlah, aku berpesan agar kalian berbuat baik terhadap kaum wanita karena mereka ibarat tawanan di tanganmu. Kalian tidak berhak menguasai apapun dari mereka selain itu. Kecuali mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Jika mereka melakukannya maka pisah ranjanglah kalian dengan mereka dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkan (pukulan yang tidak kuat). Jika mereka patuh maka janganlah mencari-cari alasan untuk menyakiti mereka. Ketahuilah bahwa mereka mempunyai hak yang wajib dipenuhi oleh isteri kalian dan mereka juga punya hak yang wajib kalian penuhi. Adapun hak kalian yang wajib mereka penuhi adalah tidak membiarkan siapapun yang kamu benci masuk ke dalam rumahmu. Dan ketahuilah bahwa hak mereka yang wajib kalian tunaikan adalah berbuat baik kepada mereka dalam hal pemberian pakaian dan makanan mereka,” (Hasan ligharihi, HR at-Tirmidzi [1163] dan Ibnu Majah [1851]). Lagi

Larangan Bagi Isteri Mengizinkan Seseorang Masuk ke dalam Rumah Tanpa Seizin Suami

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak halal bagi seorang wanita berpuasa sedang suaminya hadir (ada di rumah) kecuali dengan izinnya. Dan tidak halal mengizinkan orang lain masuk ke dalam rumahnya kecuali dengan seizin suaminya. Dan harta yang ia infakkan tanpa perintah dari suaminya, maka diberikan setengah pahala untuk suaminya,” (HR Bukhari [5195] dan Muslim [1026]).

Dalam hadits Amr bin Ahwash r.a, disebutkan, “Adapun hak kalian yang wajib ditunaikan oleh isteri-isteri kalian adalah tidak membiarkan siapa pun yang kamu benci menginjak rumahmu dan tidak mengizinkan siapa pun yang kamu benci masuk ke dalam rumahmu.”

Kandungan Bab:

1. Haram hukumnya atas seorang isteri mengizinkan siapa pun masuk ke dalam rumah suaminya kecuali dengan izinnya, baik si suami ada di rumah maupun sedang ke luar. Adapun perkataan, “Sedang ia hadir (ada di rumah)” maka Ibnu Hajar al-Ashqalani mengatakan dalam Fathul Bari (IX/296), “Kondisi syarat ini tidak ada mafhumnya, namun disebutkan karena faktor kebiasaan. Sebab keluarnya suami bukan berarti si isteri boleh mengizinkan orang lain masuk ke dalam rumahnya. Bahkan larangannya lebih keras lagi karena adanya hadits-hadits yang melarang masuk ke dalam rumah seorang wanita yang sedang sendiri, yang seorang isteri yang suaminya sedang pergi ke luar rumah.

Mungkin juga ada mafhumnya, jika si suami ada di rumah maka mudah meminta izin kepadanya. Dan jika si suami tidak ada di rumah andaikata ada keperluan darurat untuk masuk ke dalam rumahnya maka tidaklah perlu meminta izin karena adanya udzur. Lagi

Previous Older Entries