Ibu, Mengapa Kamu Membenciku?

KOMPAS.com – Situs jejaring sosial seperti Facebook ternyata menjadi sarana yang sangat menguntungkan untuk menyampaikan perasaan seseorang. Tak terkecuali hari ini, 22 Desember. Bila Anda membuka Facebook, berhamburan lah segala pujian dari pengguna mengenai ibu mereka. Tentu, semuanya bernada memuji, memuja, mensyukuri, atau menghargai.

Tetapi sebelum jejaring sosial populer, ingatkah Anda untuk menyampaikan terima kasih atau rasa sayang pada ibu? Mampukah Anda menelepon ibu saat ini untuk menyampaikan langsung betapa bangganya Anda karena ibu telah bekerja keras agar Anda bisa terus sekolah dulu? Apakah Anda telah melanjutkan spirit yang sama seperti yang dulu dilakukan ibu Anda demi kelangsungan hidup keluarga? Mengapa yang kebanyakan dikenang adalah pengalaman masa kecil, bukan pengalaman bulan lalu, atau dua hari yang lalu? Lagi

Ya Tuhan, Balita 3 tahun Ini Dengan Telaten Rawat Ayahnya Yang Lumpuh

Besar nian cobaan bagi pria ini, setelah dirinya lumpuh karena kecelakaan tak lama berselang sang istripun pergi begitu saja meninggalkannya entah kemana. Namun dia masih memiliki mutiara tak ternilai yaitu karunia dari sang Maha Pengasih seorang anak balita usia 3 tahun yang dengan telaten mendampingi dan merawatnya, sungguh sebuah kisah tak ternilai dari seorang anak seusianya.
Kisah Balita 3 tahun merawat ayahnya yang lumpuh
Bersiap-siap mengambil air untuk mandi sang ayah
Kisah Balita 3 tahun merawat ayahnya yang lumpuh
Membawa air untuk membersihakn badan sang ayah Lagi

Cerita Haru yang Tersisa dari Kurban Tahun Lalu

REPUBLIKA.CO.ID, KEDIRI–Tahun lalu, saat prosesi distribusi kurban di perkampungan lereng Gunung Wilis, Jawa Timur, tatapan saya tak lepas pada keluarga Sartono. Ia membaur di antara ratusan warga yang menunggu giliran jatah sekerat daging qurban hari itu. Mengapa sekerat? Tiga ekor kambing dari Al-Azhar Peduli Ummat dibagi rata untuk 200 keluarga.

Bahkan kulit kambing yang bagi sebagian masyarakat dijual murah begitu saja, ikut dibersihkan bulunya kemudian dicacah kecil-kecil hingga terbagi rata. Pada saat prosesi ini, siapapun yang menyaksikan tak kuat menahan haru. Tiba giliran Sartono mengambil sejumput daging yang terbungkus daun pisang. Petani yang sehari-hari menggarap lahan hutan itu, kemudian bergegas pulang ke rumahnya. Di halaman, tiga anak Sartono yang masih kecil menyerbu girang.

Iwak wedhus yo pak, enak to pak (daging kambing ya pak, enak kan pak),” cecar anak pertama Sartono yang duduk di bangku SD kelas 4. Sartono hanya senyum, kemudian menyerahkan bungkusan daun pisang itu pada istrinya. Anak-anak Sartono tak mau jauh sejengkal pun, dari bungkusan itu. Bahkan saat ibunya menyiapkan perapian di tungku dapur yang terbuat dari tanah liat, ketiga anak Sartono setia menunggui. Mereka seakan tak rela, jika seekor lalat pun hinggap. Lagi

Dahsyatnya Doa Ibu Monyet

Kisah ini dimulai dari hutan rimba, dari sebuah rumah kayu sederhana yang berpenghuni tiga ekor monyet. Mereka terdiri dari ibu monyet, abang monyet dan adik monyet.

Si abang dipanggil “Bang Nyet Nyet”, si adik dipanggil “Dek Nyit Nyit, dan ibu mereka dikenal sebagai “Bu Harum”, karena tubuhnya yang harum, selalu bersih, tidak pernah kotor serta bercahaya, sebab air wudu sangat digemarinya untuk membasuh tubuh.

Bu Harum terkenal juga sebagi ibu yang suka berdoa, bahkan seringkali doanya menyentuh sampai ke lubuk hati semua penduduk yang berwujud monyet.

Alkisah Desa Pisang yang berpenduduk 200 ekor monyet menjadi tenang berkat hidupnya surau di desa itu, karena ramainya jamaah yang salat lima waktu. Sang adik Nyit Nyit selalu menjadi imam. Lagi

Hak Seorang Istri : Kisah suami si ahli ibadah yang tidak pernah ‘menyentuh’ istrinya

Ada sepasang suami istri yang dihadirkan ke hadapan Hakim Ka’ab Al As’adi. Perkara suami istri itu diajukan kepada Hakim karena pengaduan sang istri terhadap suaminya sendiri.

Maka ketika sidang mulai digelar, dengan meratap, si istri mengadukan hal-nya kepada sang Hakim.

” Tuan Hakim yang terhormat, aku mengadu kepadamu , memintamu untuk memberikan keadilan kepadaku”.” Ya baiklah. Tapi jelaskan dahulu perkara apa yang hendak kamu ajukan kepadaku !”.” Aku mengadukan suamiku. Aku benar-benar tidak suka dengan cara hidupnya selama ini. Setiap hari kerjanya cuma sibuk beribadah. Tempat tidurnya adalah masjid. Ia jarang sekali untuk datang tidur bersamaku di tempat tidur kami dirumah. Setiap malam kerjanya cuma sholat melulu. Kalau siang hari terus menerus puasa. Aku hampir-hampir tak pernah ia perdulikan. Aku betul-betul tida senang dengan cara hidup yang seperti ini terus-menerus “.

Mendengar pengaduan si istri, hakim Ka’ab Al As’adi mengkonfirmasikan perihal tersebut kepada suaminya.” Betulkah pengaduan oleh istrimu barusan itu ?”” Benar, Pak Hakim !”.” Kalau begitu, apa maksudmu dengan semua kegiatanmu yang terus menerus seperti itu ?”” Aku ingin menjadi ahli ibadah, Pak Hakim !”.

Setelah tahu duduk persoalannya, Hakim Ka’ab lalu merenungkannya. Setelah mempertimbangkan jawaban-jawaban yang diutarakan sang suami secara mendalam, kemudian hakim memberikan keputusannya.

” Sebagai suami darinya, istrimu mempunyai hak atas dirimu. Kamu wajib memenuhi haknya itu. Allah SWT telah menghalalkan bagimu dua wanita, tiga wanita, atau sampai empat wanita untuk dapat kamu jadikan istrimu. Sekarang, istrimu kan hanya seorang. Itu berarti dalam empat hari berturut-turut kamu mempunyai waktu tiga hari untuk melakukan ibadah dan sehari dapat kamu gunakan untuk memenuhi kebutuhan biologis istrimu”.

Keputusan hakim Ka’ab Al As’adi yang menetapkan tiga hari sekali untuk mengumpuli istri membuat khalifah Umar bin Khattab terkagum-kagum. Atas kebijaksanaannya yang mengagumkan itu, kemudian khalifah mengangkat Ka’ab sebagai hakim di Basrah.

Wanita Tua yang Ingin Membeli Yusuf

Konon ketika Yusuf dijual pada orang-orang Mesir, maka mereka itu memperlakukannya dengan ramah. Banyak para pembeli dan karena itu, para pedagang memberikan harga padanya senilai dengan minyak kesturi dari lima sampai sepuluh kali berat badannya. Sementara itu, dalam kegirangan yang amat sangat, seorang wanita tua lari mendekat, dan menyelusup di antara para pembeli itu, ia pun berkata pada salah seorang bangsa Mesir, “Biarlah kubeli orang Kanaan itu, karena aku ingin sekali memiliki orang muda itu. Aku telah memintal sepuluh kumparan benang untuk membeli dia, maka ambillah benang itu dan berikan Yusuf padaku, kemudian selesailah perkara itu.”

Para pedagang tersenyum dan berkata, “Keluguanmu telah menyesatkan dirimu. Mutiara pelik ini tidak teruntuk bagimu; orang-orang itu telah menawarnya dengan seratus barang-barang berharga. Mana mungkin kau menyaingi mereka dengan beberapa kumparan benangmu?” Sambil menatap wajah mereka, wanita tua itu berkata, “Aku tahu betul bahwa kau tak akan menjualnya dengan begitu murah, tetapi cukuplah bagiku kalau kawan-kawan dan musuh-musuhku akan mengatakan ‘Wanita tua ini terrnasuk salah seorang yang ingin membeli Yusuf.'”

Siapa yang tak bercita-cita tak akan pernah sampai ke kerajaan tak berbatas itu. Dikuasai oleh keinginan yang mulia ini, seorang pangeran agung memandang kerajaan duniawinya sebagai debu. Ketika disadarinya betapa hampa kebangsawanannya yang bersifat sementara itu, ia pun memutuskan bahwa kebangsawanan ruhani sama harganya dengan seribu kerajaan dunia.

Musyawarah Burung terjemahan Hartojo Andangdjaja
Judul asli: Mantiqu’t-Thair oleh Faridu’d-Din Attar
Diterjemahkan dari The Conference of the Birds (C. S. Nott).
Diterbitkan oleh PT DUNIA PUSTAKA JAYA

Rp. 1.500,- = Rp. 600.000,- (matematika Allah)

Tidak ada satu maksud apa pun ketika menuliskan cerita ini, semoga Allah menjaga hati ini dari sifat riya meski sebiji zarah pun.

__________________________

___

Jum’at lalu, saya berangkat ke kantor dengan dada sedikit berdegub. Melirik ukuran bensin di dashboard motor, masih setengah. “Yah cukuplah untuk pergi pulang ke kantor”.

Namun, bukan itu yang membuat dada ini tak henti berdegub. Uang di kantong saya hanya tersisa seribu rupiah saja. Degubnya tambah kencang karena saya hanya menyisakan uang tidak lebih dari empat ribu rupiah saja di rumah. Saya bertanya dalam hati, “makan apa keluarga saya siang nanti?” Meski kemudian buru-buru saya hapus pertanyaan itu, mengingat nama besar Allah yang Maha Melindungi semua makhluk-Nya yang tawakal.

Saya berangkat, terlebih dulu mengantar si sulung ke sekolahnya. Saya bilang kepadanya bahwa hari ini tidak usah jajan terlebih dulu. Alhamdulillah ia mengerti. Soal pulangnya, ia biasa dijemput tukang ojeg yang –sukurnya- sudah dibayar di muka untuk antar jemput ke sekolah.

Sepanjang jalan menuju kantor saya terus berpikir, dari mana saya bisa mendapatkan uang untuk menjamin malam nanti ada yang bisa dimakan oleh isteri dan dua putri saya. Urusan besok tinggal bagaimana besok saja, yang penting sore ini bisa mendapatkan sesuatu untuk bisa dimakan. Lagi

Previous Older Entries