Mengapa Nabi boleh Menikah Lebih dari Empat?

Pertanyaan :

aslmk

ustad, alqur’an memperbolehkan menikah sampai 4 istri… saya bingung ketika salah seorang teman saya mengatakan mengapa rasulullah menikah lebih dari 4 istri?? berarti di melanggar alqur’an?? terimakasih untuk pencerahannya

zueldi

Jawaban Ustadz Sigit Pranowo, Lc.:

Waalaikumussalam Wr Wb

Al Qur’an membicarakan tentang disyariatkannya poligami hanya didalam dua ayat yang keduanya berada di surat an Nisa :

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُواْ فِي الْيَتَامَى فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُولُواْ
Artinya : “dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An Nisaa : 3)

وَلَن تَسْتَطِيعُواْ أَن تَعْدِلُواْ بَيْنَ النِّسَاء وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلاَ تَمِيلُواْ كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِن تُصْلِحُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ اللّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا
Artinya : “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. dan jika kamu Mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisaa : 129)

Poligami atau beristri banyak adalah tradisi yang sudah terjadi di beberapa negeri termasuk di kalangan orang-orang Arab jahiliyah sebelum kedatangan islam. Jadi islam bukanlah yang mula-mula membawa sistem poligami. Islam datang membawa aturan berpoligami dengan memberikan batasan serta menjadikan keadilan sebagai persyaratan bagi seseorang yang ingin melangsungkan poligami, seperti yang diterangkan ayat-ayat diatas.

Banyak dari sahabat yang ketika masuk islam dalam keadaan berpoligami dan memiliki istri lebih dari empat orang, diantaranya Qois bin Tsabit yang memiliki delapan orang istri, Ghailan bin Salamah ats Tsaqofiy memiliki sepuluh orang istri, Naufal bin Muawiyah memiliki lima orang istri kemudian Rasulullah saw memerintahkan setiap mereka untuk hanya mencukupkannya dengan empat orang istri lalu menceraikan yang lainnya. Ini merupakan dalil lain dibolehkannya poligami didalam islam dengan jumlah maksimal bagi setiap muslim adalah empat orang. Lagi

Bolehtidaknya Poligami karena Isteri Tidak Juga Hamil

Assalamu’alaikum wr. wb.

Ustadz, saya mempunyai masalah yang menurut saya sangat besar. Saya menikah dengan istri saya pada tahun 1999 (sudah 11 tahun menikah) dan sampai sekarang saya belum dikaruniai keturunan. Sekarang saya mengadopsi anak dan sudah berumur 10 tahun. Jujur ustadz, dalam hati saya ingin sekali mempunyai keturunan sendiri. Saya sudah pernah periksa dan saya dinyatakan subur oleh dokter. Yang saya tanyakan :

1. Bagaimana hukumnya bila saya menikah lagi ? (dengan harapan saya dapat meneruskan garis keturunan saya)

2. Bagaimana hukumnya bila istri saya mau menandatangani pernyataan (mengijinkan) saya untuk menikah lagi tetapi didalam hati istri saya sebenarnya tidak rela/ikhlas ?

3. Bagaimana hukumnya jika seorang istri meninggalkan kamar suaminya tanpa ijin ? ( hal ini sering dilakukan istri saya jika sedang ada masalah dengan saya dengan memilih tidur dengan anak )

4. Istri saya mengijinkan saya menikah lagi dengan syarat saya harus menceraikannya. Saya tidak dapat menceraikan istri saya karena sangat mencintainya. Tapi saya juga ingin mempunyai keturunan sendiri, mohon petunjuknya ustadz.

Saya berharap ustadz dapat memberikan petunjuk kepada saya.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

subedor

Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Apa yang anda dan istri alami saat ini adalah bagian dari takdir Allah yang tentunya mengandung berbagai hikmah dan pelajaran didalamnya. Namun demikian Allah swt memerintahkan setiap hamba-Nya untuk berusaha merubah keadaannya dengan tetap menyandarkan hasil sepenuhnya kepada-Nya.

أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَن يَشَاء عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ
Artinya : “Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Asy Syura : 50)

إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak mengubah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar Ra’du : 11)

Tidak ada larangan bagi anda dan istri untuk berobat ke dokter spesialis kandungan karena boleh jadi sebab-sebab ketidakmampuannya hamil bisa diatasi olehnya dengan izin Allah swt.

Adapun keinginan anda untuk menikah lagi maka tidaklah ada larangan dalam hal ini terlebih lagi jika terdapat kebutuhan dan kemaslahatan didalamnya, seperti : untuk mendapatkan keturunan, selama anda mampu untuk berlaku adil didalamnya.

فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فَوَاحِدَةً
Artinya : “Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil maka (kawinilah) seorang saja.” (QS. An Nisaa : 3)

Diriwayatkan oleh an Nasai dari Abu Hurairah dari Nabi saw, beliau bersabda: “Barang siapa yang memiliki dua orang isteri dan dia lebih condong kepada salah seorang di antara mereka maka dia akan datang pada Hari Kiamat dalam keadaan salah satu sisinya miring.”

Imam al Auzai mengatakan,”Seandainya seseorang memilik istri yang mandul maka dianjurkan baginya untuk menikah dan memiliki keturunan.” (al Mausu’ah al Fiqhiyah 81/6)

Tidak ada keharusan bagi seorang suami yang ingin berpoligami untuk meminta izin atau mendapatkan restu terlebih dahulu dari istrinya baik lisan maupun tulisan. Namun tidak ada salahnya jika anda mengajak istri anda berbicara atau meminta pendapatnya dengan menceritakan sebab-sebab yang melatarbelakangi keinginan anda itu, kemaslahatan yang ada didalamnya serta tinjauan syariah dalam hal ini.

Hendaklah anda menasehatinya jika terdapat sikap-sikap yang perlu anda luruskan, seperti : kebiasaannya meninggalkan kamar untuk tidak tidur bersama anda ketika marah atau meminta agar dirinya diceraikan jika anda menikah lagi karena hal itu adalah pelanggaran terhadap aturan Allah swt.

Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Tsauban, ia berkata; Rasulullah saw bersabda: “Siapapun wanita yang meminta cerai kepada suaminya bukan karena kesalahan, maka haram baginya bau surga.”

Wallahu A’lam

SUMBER : http://www.eramuslim.com

Hukum Nikah Kecelakaan : MBA (Married By Accident)

Tanya : Ama ba’du…. langsung saja ust, ada beberapa pertanyaan yang ditanyakan kepada ana tapi ana masih ragu jawabannya berikut pertanyaannya :

1. Apa hukum menikahi wanita sedangkan dia dalam keadaan hamil karna perzinaan yang dilakukan oleh keduanya sahkah pernikahan nya?

2. Hukum pernikahan dengan memakai wali hakim sedangkan wali nasabnya masih ada tetapi mereka tidak merestuinya, hanya kakak laki-laki wanita tersebut yang hadir akan tetapi kakaknya menyerahkan kepada wali hakim untuk perwalian adiknya, apakah pernikahan mereka sah ?

3. apakah talak tiga yang diucapkan dalam satu ucapan jatuh 3 atau 1? manakah pendapat yang rajih diantara pendapat para ulama?

demikian pertanyaan yang ana ajukan mohon jawabannya segera, atas jawaban antum ana ucapkan
جزاكم الله خير الجزاء

akmal andre_akmalxxxx@yahoo.com

Jawaban Al-Ustadz Dzulqornain Abu Muhammad

Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh

1. 1. Nikah dengan perempuan yang hamil karena zina tidaklah syah kecuali dengan dua syarat:

Satu : Dia telah bertaubat dari perbuatan zinanya.

Dua : Dia telah lepas iddah dengan melahirkan kandungannya.

Dua syarat di atas tentunya diterangkan oleh sejumlah dalil. Namun, ana belum punya banyak waktu untuk menjelaskannya pada kesempatan ini.

Pensyaratan di atas yang difatwakan oleh para ulama dan guru-guru kami di masa ini, seperti Al-Lajnah Ad-Da`imah, Syaikh Ibnu Baaz, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Sholeh Al-Fauzan, Syaikh Muqbil dan selainnya. Lagi

Nasehat bagi wanita yang terlambat menikah

Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin ditanya:

“Saya ingin meminta saran kepada syaikh bahwa saya dan teman – teman senasib telah ditakdirkan untuk tidak merasakan nikmat nikah, sementara umur hampir menginjak masa putus harapan untuk menikah. Padahal Alhamdulillah saya dan teman – teman senasib memiliki akhlak yang cukup dan berpendidikan sarjana dan inilah nasib kita, Alhamdulillah. Yang membuat kaum lelaki tidak mau melamar kita disebabkan kondisi ekonomi yang kurang mendukung karena pernikahan di daerah kami dibiayai oleh kedua mempelai. Saya memohon nasehat syaikh untuk kami ?”

Jawaban:

Nasehat saya untuk yang terlambat menikah hendaknya selalu berdo’a kepada Allah dengan penuh harapan dan keikhlasan, dan mempersiapkan diri untuk siap menerima lelaki yang shalih. Apabila seseorang jujur dan sungguh-sungguh dalam do’anya, disertai dengan adab do’a dan meninggalkan semua penghalang do’a, maka do’a tersebut akan terkabulkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَyang artinya : “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. ” (Al-Baqarah : 186).
Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:”Dan Tuhanmu berfirman: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ artinya “Berdo’alah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu” (Al-Mukmin : 60).

Dalam ayat tersebut Allah menggantungkan terkabulnya do’a hamba-Nya setelah dia memenuhi panggilan dan perintah-Nya. Saya melihat, tidak ada sesuatu yang baik kecuali berdo’a dan memohon kepada Allah serta menunggu pertolongan dari-Nya.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Ketahuilah sesungguhnya pertolongan diperoleh bersama kesabaran dam kemudahan selalu disertai kesulitan dan bersama kesulitan ada kemudahan.”

Saya memohon kepada Allah untuk kalian dan yang lainnya agar dimudahkan oleh Allah dalam seluruh urusannya dan semoga segera mempertemukan kalian dengan laki-laki yang shalih yang hanya menikah untuk kebaikan dunia dan agamanya.

(Dikutip dari : Fatawal Mar’ah hal. 58, Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin)

Apabila Seorang Perempuan Berzina Kemudian Hamil, Bolehkah Dinikahi Oleh Pria Yang Menghamilinya?

Pertanyaan : Apabila seorang perempuan berzina kemudian hamil, bolehkah ia dinikahi oleh laki-laki yang menghamilinya dan kepada siapa dinasabkan anaknya?

Jawabannya : Boleh dia dinikahi oleh laki-laki yang menzinainya dan menghamilinya dengan kesepakatan (ijma) para ahli fatwa sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ibnu Abdil Bar yang dinukil oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar di kitabnya Fathul Baari (Juz 9 hal. 157 di bagian kitab nikah bab 24 hadits 5105) [17]. Untuk lebih jelasnya lagi marilah kita ikuti fatwa para ulama satu persatu dari para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seterusnya.

Pertama : Fatwa Abu Bakar Ash-Shiddiq
Berkata Ibnu Umar : Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq sedang berada di masjid tiba-tiba datang seorang laki-laki, lalu Abu Bakar berkata kepada Umar, “Berdirilah dan perhatikanlah urusannya karena sesungguhnya dia mempunyai urusan (penting)” Lalu Umar berdiri menghampirinya, kemudian laki-laki itu menerangkan urusannya kepada Umar, “Sesungguhnya aku kedatangan seorang tamu, lalu dia berzina dengan anak perempuanku!?” Lalu Umar memukul dada orang tersebut dan berkata, “Semoga Allah memburukkanmu! Tidakkah engkau tutup saja (rahasia zina) atas anak perempuan itu!” Lagi

Apabila Seorang Perempuan Berzina Kemudian Hamil, Bolehkah Dinikahi Pria Yang Tidak Menghamilinya?

Pertanyaan : Apabila seorang perempuan berzina kemudian dia hamil, maka bolehkan dia dinikahi oleh laki-laki yang tidak menghamilinya? Dan kepada siapakah dinasabkan anaknya?

Jawabannya ; Dalam hal ini para ulama kita telah berselisih menjadi dua madzhab. Madzhab yang pertama mengatakan boleh dan halal dinikahi dengan alasan bahwa perempuan tersebut hamil karena zina bukan dari hasil nikah. Sebagaimana kita ketahui bahwa syara’ (agama) tidak menganggap sama sekali anak yang lahir dari hasil zina seperti terputusnya nasab dan lain-lain sebagaimana beberapa kali kami jelaskan di muka. Oleh karena itu halal baginya menikahinya dan menyetubuhinya tanpa harus menunggu perempuan tersebut melahirkan anaknya.

Inilah yang menjadi madzhabnya Imam Syafi’iy dan Imam Abu Hanifah. Hanya saja Abu Hanifah mensyaratkan tidak boleh disetubuhi sampai perempuan tersebut melahirkan.

Adapun madzhab kedua mengatakan haram dinikahi sampai perempuan tersebut melahirkan, beralasan kepada beberapa hadits. Lagi

HUKUM KEDUA MEMPELAI BERSANDING DI HADAPAN KAUM WANITA

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya ;
Apa hukumnya tentang yang dilakukan oleh sebagian orang yang di saat pesta pernikahan dimana mereka menyandingkan kedua mempelai di depan kaum wanita dan mendudukannya di kursi pengantin, pengantin pria dapat melihat para tamu wanita dan mereka pun melihatnya. Kami mengharapkan jawabannya disertai dalil. Jazakumullahu khairan.

Jawaban
Perbuatan seperti itu haram hukumnya dan tidak boleh dilakukan, karena bersandingnya kedua mempelai di hadapan kaum wanita pada acara tersebut, tidak diragukan lagi, dapat menimbulkan fitnah (maksiat) dan membangkitkan gairah syahwat, bahkan bisa berbahaya terhadap istri (mempelai wanita), karena bisa saja sang suami melihat perempuan yang ada di hadapannya yang lebih cantik daripada istrinya dan lebih bagus posturnya, hingga ia kurang tertarik kepada istri yang ada di hadapannya dimana ia mengira (sebelumnya) bahwa istrinya adalah wanita yang paling cantik dan bagus. Lagi

Previous Older Entries