Aneh! Ibu Ini Bisa Meninggal Hanya karena Makan Tomat

When Charlotte ate a pear with its peel on she was rushed to hospital itching and coughing up bloodCharlotte Jefferson

Jakarta, Para dokter selalu merekomendasikan agar setiap orang mengonsumsi lima jenis buah dan sayuran dalam sehari, tapi ibu yang satu ini harus ekstra hati-hati dengan buah-buahan yang dimakannya. Salah makan, bisa-bisa ia meninggal sia-sia karenanya.

Charlotte Jefferson (25) mengidap penyakit langka yang disebut dengan salicylate sensitivity, artinya ia akan mengalami gatal-gatal, tidur sambil mengigau hingga batuk darah jika makan buah tertentu.

Padahal salisilat merupakan zat kimia yang terkandung secara alami pada berbagai jenis buah dan sayuran. Jika dosisnya tinggi, senyawa ini memang berbahaya, hanya saja mayoritas orang dapat menanggulangi kadar salisilat tertentu yang ada di dalam makanan. Kecuali bagi orang-orang yang tak bisa mentolerirnya, mereka takkan bisa menelan makanan sama sekali meski mungkin kadar salisilatnya kecil.

Seperti halnya yang terjadi pada ibu satu anak ini. Bahkan ia sempat diopname beberapa kali hanya karena memakan buah-buahan seperti tomat dan pear.

Sesaat setelah memakan buah pear, Charlotte langsung dilarikan ke rumah sakit karena ia mengaku mengalami gatal-gatal hebat dan batuk darah. Begitu juga ketika ia baru saja makan rempah-rempah, tenggorokannya membengkak hingga Charlotte tak dapat bernafas.

Kondisi serupa juga terjadi ketika Charlotte makan tomat karena setelah itu ia mendadak mengalami sakit kepala hebat, batuk darah, banyak mengigau dan tampak linglung.

“Saya sering diopname karena kondisi ini. Saya sangat khawatir jika makan pear atau rempah-rempah lagi karena itu dapat membunuhku,” tandasnya seperti dilansir dari Daily Mail, Selasa (5/2/2013).

Ibu dari bocah laki-laki bernama Warren ini baru saja didiagnosis dengan intoleransi salisilat beberapa bulan yang lalu. Sejak saat itu, ia dilarang makan makanan seperti kerang-kerangan, daging asap dan daging kalengan, segala jenis buah kecuali pisang, brokoli, mentimun, isian pai, minyak sayur, yoghurt, selai, minuman buah, soda, kecap, berbagai jenis herba dan rempah-rempah penyedap makanan, biskuit, permen hingga custard.

Sekarang Charlotte harus memasak makanannya sendiri. Untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu intoleransinya kambuh, ia juga selalu membawa serta EpiPen kemanapun ia pergi. EpiPen merupakan suntikan adrenalin sebagai pengobatan darurat sebelum dibawa ke rumah sakit.

Ibu Charlotte, Candy Lee (47) tahu ada yang salah sejak putrinya masih bayi.

“Ia terus muntah-muntah sepanjang waktu. Masalahnya ia adalah anak pertama saya jadi saya tak tahu pasti apakah yang dialaminya itu normal atau tidak dan apa yang harus saya lakukan untuk menanggulanginya. Kondisinya cukup mengkhawatirkan karena ia jadi dehidrasi karenanya,” ujarnya.

“Saya pun berbicara dengan bidan dan katanya saya harus terus mencoba berbagai merk susu yang berbeda-beda, beruntung akhirnya kami menemukan satu merk susu yang bisa dikonsumsinya tanpa masalah,” tambahnya.

“Lalu ketika beranjak menjadi anak-anak, tampaknya saya baik-baik saja hingga berusia 15 tahun, tapi sejak itu saya mulai sering mengalami sakit kepala hebat dan sakit-sakitan. Ketika saya minum kola, gelembung-gelembung sodanya akan kembali masuk ke mulut saya seperti saat Anda mengocok kaleng kola. Jika saya pergi bersama teman-teman, sebelumnya saya harus menelpon restoran yang akan kami tuju dulu untuk mengajukan berbagai pertanyaan tentang apa yang mereka gunakan dalam masakan dan bagaimana makanan itu disajikan,” sahut Charlotte.

Akibatnya Charlotte lebih banyak mengonsumsi bubur karena itu adalah makanan yang paling mudah dibuat. Namun Charlotte memunculkan reaksi yang berbeda-beda terhadap makanan-makanan yang tak bisa ia konsumsi, mulai dari gatal-gatal parah, sakit kepala, batuk darah hingga tenggorokan bengkak.

Penasaran, Charlotte pun mencoba mencari tahu berbagai aspek tentang kondisi yang dialaminya lewat internet, tapi satu-satunya tempat yang ia ketahui tengah meneliti kondisinya adalah sebuah klinik di Selandia Baru.

“Saya diberitahu jika saya dapat dirujuk ke seorang pakar diet, tapi bentuk intoleransi orang terhadap makanan yang saya alami itu berbeda-beda. Katanya saya bisa makan buah pear tapi karena makan satu pear saja, nyawa saya hampir melayang. Saya pun depresi karena tak bisa hidup dengan normal,” tutupnya.

Sumber :http://www.detik.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: