SITI FATIMAH DAN BINATANG

Terdapatlah seorang gadis kecil yang tumbuh berkembang bersama orangtuanya, semua di dalam hutan. Suatu hari ia menemukan ayah dan ibunya meninggal, dan dia harus menjaga dirinya sendiri. Orangtuanya meninggalkan Mihrab, sebuah ornamen ukiran yang aneh seperti kusen jendela, yang terus tergantung di dinding pondok.

“Sekarang aku sendirian,” ujar Fatimah, “dan harus bertahan di hutan yang hanya didiami binatang ini, akan lebih baik jika aku dapat berbicara dan mengerti bahasa mereka.”

Maka ia menghabiskan hari-hari baiknya dengan menyebut keinginannya ke kusen di dinding, “Mihrab, berilah aku kekuatan untuk memahami dan berbicara dengan binatang.”

Setelah cukup lama, tiba-tiba ia merasa bahwa dirinya dapat berbicara dengan burung, binatang-binatang lain bahkan ikan. Maka ia pergi ke dalam hutan untuk mencobanya.

Segera ia menuju ke kolam. Di atas air ada sejenis lalat kolam, melompat-lompat di permukaan dan tidak pernah masuk ke air. Bermacam ikan berenang di dalamnya, dan menempel di dasar kolam terdapat banyak siput. Lagi

Gubernur Dan Wanita Yang Berwajah Buruk

Seorang Gubernur pada zaman Khalifah Al-Mahdi, pada suatu hari mengumpulkan sejumlah tetangganya dan menaburkan uang dinar dihadapan mereka. Semuanya saling berebutan memunguti uang itu dengan suka cita. Kecuali seorang wanita kumal, berkulit hitam dan berwajah jelek. Ia terlihat diam saja tidak bergerak, sambil memandangi para tetangganya yang sebenarnya lebih kaya dari dirinya, tetapi berbuat seolah-olah mereka orang-orang yang kekurangan harta.

Dengan keheranan sang Gubernur bertanya, “Mengapa engkau tidak ikut memunguti uang dinar itu seperti tetangga engkau?” Janda bermuka buruk itu menjawab, “Sebab yang mereka cari uang dinar sebagai bekal dunia. Sedangkan yang saya perlukan bukan dinar melainkan bekal akhirat.” “Maksud engkau?” tanya sang Gubernur mulai tertarik akan kepribadian perempuan itu. “Maksud saya, uang dunia sudah cukup. Yang masih saya perlukan adalah bekal akhirat, iaitu sholat, puasa dan zikir. Sebab perjalanan di dunia amat pendek dibanding dengan pengembaraan di akhirat yang panjang dan kekal.” Lagi

Wanita Pertama Masuk Syurga

Pernahkah terbersit dalam pikiran anda untuk bertanya “Siapa sih wanita yang pertama masuk surga di akhirat kelak?”. Sebuah pertanyaan iseng yang kalo dipikir-pikir sih ternyata membuat kita penasaran juga ya. Jika anda penasaran (seperti juga aku ketika itu), maka anda sama penasarannya dengan Siti Fatimah, putri Rasulullah Saw. Ia berniat menanyakan hal ini kepada ayahandanya.

Lalu, apakah anda menduga bahwa wanita yang pertama masuk surga itu adalah Siti Fatimah? Atau ibunda beliau Siti Khadijah, atau Siti Aisyah ataukah salah satu dari keluarga Rasulullah Saw lainnya? Mmm. Jika iya, jawaban anda ternyata salah. Inilah hebatnya Islam, tidak mengenal istilah ‘nepotisme’ (hehehe). Dalam sebuah ceramah agama, akhirnya aku tahu, ternyata wanita yang diperkenankan masuk surga pertama kali adalah seorang wanita yang bernama Muti’ah. Anda kaget? Sama seperti Siti Fatimah ketika itu, yang mengira dirinyalah yang pertama kali masuk surga.

Siapakah Muti’ah? Karena rasa penasaran yang tinggi, Siti Fatimah pun mencari seorang wanita yang bernama Muti’ah ketika itu. Beliau juga ingin tahu, amal apakah yang bisa membuat wanita itu bisa masuk surga pertama kali? Mmm, pencarian pun dimulai, sodare-sodare… Lagi

Antara Sabar Dan Mengeluh

Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Abul Hassan yang pergi haji di Baitul Haram. Diwaktu tawaf tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang bersinar dan berseri wajahnya.
“Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu,  pasti  dia tidak pernah risau dan bersedih hati.”

Tiba-tiba wanita itu mendengar ucapan Abul Hassan lalu ia bertanya, “Apakah katamu hai saudaraku ? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaan dukacita dan luka hati karena risau, dan orang-orang  pasti  setuju   dengan sikapku l ini.”

Abu Hassan bertanya, “Bagaimana hal yang merisaukanmu?”

Wanita itu menjawab, “Pada suatu hari ketika suamiku sedang menyembelih kambing korban, dan saat itu  aku mempunyai dua orang anak yang sudah boleh bermain dan yang satu masih menyusu, dan ketika aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang agak besar berkata pada adiknya, “Hai adikku, sukakah aku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing ? Lagi

Wanita Yang Teguh Menggenggam Tauhid

Semoga muslimah sekalian bisa mengambil hikmah dan mengikuti jejak keduanya, meninggal dalam keadaan teguh menggenggam “Tauhid.” “

Alkisah di negeri Mesir, Fir’aun terakhir yang terkenal dengan keganasannya bertahta. Setelah kematian sang isteri, Fir’aun kejam itu hidup sendiri tanpa pendamping. Sampai cerita tentang seorang gadis jelita dari keturunan keluarga Imran bernama Siti Asiah sampai ke telinganya. Fir’aun lalu mengutus seorang Menteri bernama Haman untuk meminang Siti Asiah.

Orangtua Asiah bertanya kepada Siti Asiah, “Sudikah anakda menikahi Fir’aun ?”

“Bagaimana saya sudi menikahi Fir’aun. Sedangkan dia terkenal sebagai raja yang ingkar kepada Allah ?”

Haman kembali pada Fir’aun. Alangkah marahnya Fir’aun mendengar kabar penolakan Siti Asiah.

“Haman, berani betul Imran menolak permintaan raja. Seret mereka kemari. Biar aku sendiri yang menghukumnya !”

Fir’aun mengutus tentaranya untuk menangkap orangtua Siti Asiah. Setelah disiksa begitu keji, keduanya lantas dijebloskan ke dalam penjara. Menyusul kemudian, Siti Asiah digiring ke Istana. Fir’aun kemudian membawa Siti Asiah ke penjara tempat kedua orangtuanya dikurung. Kemudian, dihadapan orangtuanya yang nyaris tak berdaya, Fir’aun berkata, “He, Asiah. Jika engkau seorang anak yang baik, tentulah engkau sayang terhadap kedua orangtuamu. Oleh karena itu, engkau boleh memilih satu diantara dua pilihan yang kuajukan. Kalau kau menerima lamaranku, berarti engkau akan hidup senang, dan pasti kubebaskan kedua orangtuamu dari penjara laknat ini. Sebaliknya, jika engkau menolak lamaranku, maka aku akan memerintahkan para algojo agar membakar hidup-hidup kedua orangtuamu itu, tepat dihadapanmu.” Lagi

Hafshah, Dibela Jibril Lantaran Tekun Ibadah

Selain Aisyah, Hafshah dikenal sebagai istri Rasulullah Saw. yang pencemburu. Seringkali ia membuat ulah untuk menarik perhatian Rasulullah. Suatu hari, ketika Rasulullah menemuinya, Hafshah bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa mulutmu bau maghafir (minuman dari getah yang berbau busuk)?” “Aku baru saja minum madu, bukan maghafir,” jawab Nabi penuh tanda tanya. “Kalau begitu, engkau minum madu yang sudah lama,” timpal Hafshah.

Keheranan Rasulullah makin bertambah ketika Aisyah yang ditemuinya mengatakan hal serupa. Saking kesalnya, Rasulullah mengharamkan madu buat dirinya untuk beberapa waktu. Beliau tak tahu kalau Hafshah telah “berkomplot” dengan Aisyah untuk “ngerjain” Rasulullah. Keduanya cemburu lantaran Nabi tinggal lebih lama dari jatah waktunya di rumah Zainab binti Jahsy. Waktu itu Nabi tertahan karena Zainab menawarkan madu kepada beliau. Lagi

Fatimah, wanita yang berhati emas

SUATU hari, Hasan dan Husain sakit parah. Orang
tua mereka —Ali dan Fatimah— sangat kebingungan.
Akhirnya mereka bernazar jika —atas kemurahan Allah—
kedua putra mereka sembuh, mereka akan berpuasa
selama tiga hari berturut-turut.
Allah mendengar doa mereka dan tidak lama setelah
itu keduanya pun kembali pulih kesehatannya. Kedua
orangtua mereka pun memulai puasa nazar mereka.
Matahari rurun di ufuk barat dan hari pertama puasa
mereka berakhir. Ali dan Fatimah berbuka puasa dengan
segelas air dan kemudian melaksanakan shalat maghrib.
Setelah itu mereka bersiap-siap menyantap makanan
—sedikit roti gandum. Saat kedua tangan mereka menyentuh
roti itu, tiba-tiba terdengar suara ratapan seseorang. Lagi

Srikandi-Srikandi Perang Yarmuk

TUJUH tahun setelah peristiwa Uhud, masa-masa
kegelapan Islam telah berlalu. Rasulullah berhasil menaklukkan
Mekah dan mendeklarasikan pengampunan
massal kepada musuh-musuh beliau. Tersentuh oleh
keluhuran budi Rasulullah, orang-orang Mekah berkumpul
d:i hadapan beliau dan menyatakan syahadat.
Hindun tidak tinggal diam. Dia datang bersama pengikutpengikutnya
menghadap Nabi dan menyatakan masuk
Islam.

Rasulullah memberi mereka nasihat seraya berkata,
“Berjanjilah bahwa kalian tidak akan berbohong dan
melakukan zina!”
“Wahai Rasulullah, mungkinkah wanita terhormat
melakukan hal itu? tanya Hindun.
“Alangkah baiknya kalau kalian tidak melakukannya.
Berjanjilah bahwa kalian tidak akan membunuh anakanak
kalian!” lanjut Rasulullah.
“Kami yang membesarkan mereka. Kalianlah para
lelaki yang membawa mereka ke medan perang dan membunuh
mereka,” jawab Hindun lagi.
Rasulullah menatap si pembicara, “Apakah kamu
Hindun?”
“Benar Wahai Rasulullah.”
“Baiklah kalau begitu. Jangan ijinkan lagi lelaki kalian
membunuh mereka. Berjanjilah juga bahwa kalian tidak
akan mencuri.”
“Kadang-kadang aku melakukan hal ini, tetapi aku
mencurinya dari dompet suamiku; apakah itu juga termasuk
pencurian?”
Rasulullah tersenyum, “Bukan, itu bukan mencuri; tetapi
jangan menggunakan uang suami secara berlebihan.” Lagi

Saudah binti Zam’ah, Wanita Gemuk Istri Rasulullah yang Berjiwa Periang

Sudah gilakah Muhammad, tuduh sebagian orang Makkah ketika Rasulullah saw menikahi Saudah binti Zam’ah. Pernikahan itu membuat gempar masyarakat Makkah. Bayangkan, meski seorang janda, Saudah bukanlah janda kembang yang menarik. Sebagai janda tua, sama sekali ia tidak menyisakan kecantikan di masa mudanya. Punya anak lagi.

“Apakah wanita semacam itu pantas untuk menggantikan posisi Khadijah? Padahal, banyak wanita lain yang lebih layak menggantikan Khadijah, baik dari segi kecantikannya, martabatnya, kekayaannya, maupaun usianya,” kata mereka.

Pendapat itu betul. Memang kehadiran Saudah bukan untuk menggantikan posisi Khadijah. “Aku mengawinin Saudah kerena dia adalah janda pahlawan yang perlu di santunin,” alasan Nabi. Lagi

Bau Harum Kuburan Masyithah

Masyithah pelayan putri Fir’aun. Ia ibu yang melahirkan putra-putra berlian. Wanita yang berani mempersembahkan jiwa-raga untuk agama Allah swt. Ia seorang bunda yang memiliki sifat kasih sayang dan kelembutan. Mencintai anak-anaknya dengan cinta fitrah ibu yang tulus. Masyithoh berjuang, bekerja, dan rela letih untuk membahagiakan mereka di dunia dan di akhirat.

Bayangkan, anaknya yang terkecil direnggut dari belaian tangannya. Si sulung diambil paksa. Keduanya dilemparkan ke tengah tungku panas timah membara. Masyithah menyaksikan itu semua dengan mata kepalanya sendiri. Kalbu ibu mana yang tidak bergetar. Hati ibu mana yang tidak hancur bersama luruhnya jasad buah hatinya. Jiwa ibu mana yang tidak tersembelih dan membekaskan rasa sakit dengan luka menganga? Masyithah melihat sendiri si sulung dan si bungsu menjerit kesakitan terpanggang di tungku timah panas membara. Lagi

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya.