Tuhan Menegur Seorang Darwis

Seorang suci yang telah menemukan ketenteraman dalam Tuhan menyerahkan seluruh dirinya dalam sembah dan puja selama empat puluh tahun. Ia telah melarikan diri dari dunia ini, tetapi karena Tuhan begitu mesra menyatu padanya, orang itu pun merasa puas. Darwis ini telah memagari sebidang tanah di gurun; di tengah-tengahnya ada sebatang pohon, dan di pohon itu seekor burung telah membuat sarangnya. Nyanyian burung itu merdu terdengar, karena setiap nadanya mengandung seratus rahasia. Hamba Tuhan itu terpesona. Tetapi Tuhan menyampaikan pada seorang arif tentang ihwal peristiwa itu dengan kata-kata ini, “Katakan pada sufi itu bahwa aku heran setelah berkhusyuk selama bertahun-tahun, ia telah berhenti dengan menjual aku seharga seekor burung. Memang benar burung itu mengagumkan, tetapi nyanyiannya telah menjerat sufi itu dalam sebuah perangkap. Aku telah membeli dia dan dia telah menjual aku.”

Musyawarah Burung terjemahan Hartojo Andangdjaja
Judul asli: Mantiqu’t-Thair oleh Faridu’d-Din Attar
Diterjemahkan dari The Conference of the Birds (C. S. Nott).
Diterbitkan oleh PT DUNIA PUSTAKA JAYA

Kisah Dua Orang Saleh Membawa Sepatu

Dua orang saleh dan terhormat pergi ke masjid bersama-sama.
Yang pertama melepas sepatunya, lalu meletakkannya rapi-rapi
di luar pintu. Yang kedua melepaskan sepatunya, menangkupkan
di kedua solnya, lalu membawanya masuk masjid.

Sekelompok orang-orang saleh lain, yang duduk di dekat pintu
masjid. Terdengar pembicaraan tentang kedua orang yang baru
masuk tadi; yang mana diantara keduanya yang benar. “Jika
orang masuk mesjid telanjang kaki, bukankah sebaiknya
meninggalkan saja sepatunya di luar?” tanya seseorang.
Seorang yang lain menyambung, “Tetapi tidakkah kita harus
mempertimbangkan bahwa orang yang membawa sepatunya ke
masjid itu selalu ingat akan dirinya?” Lagi

Tiga Guru Sufi Mencari Kebenaran

Tiga orang guru sufi yang telah bertekad hendak mendapatkan kebenaran sampai ke rumah salah seorang dari guru-guru yang ternama. *)

Mereka memohon pertolongan dari sang guru. Sebagai jawaban, sang guru membawa mereka ke dalam kebunnya. Ia mengambil sebuah ranting kayu mati, menuju petak-petak kebunnya dan menebas kembang-kembang dari pohon-pohon yang menjulang.

Ketika mereka kembali ke dalam rumah, sang guru arif bijaksana duduk beserta siswa-siswanya dan bertanya:

“Apakah makna dari perbuatanku itu? Barang siapa di antara kamu memberi penafsiran yang benar akan menerima pengajaranku”.

Guru sufi yang pertama menjawab:

“Penafsiranku terhadap pelajaran tadi adalah “manusia-manusia yang menyangka bahwa mereka lebih banyak mengetahui daripada orang-orang lain harus disamaratakan dengan orang-orang lain dalam menerima pengajaran”.”

Guru sufi yang kedua menjawab:

“Pemahamanku mengenai perbuatanmu tadi adalah “sesuatu yang terlihat indah mungkin tidak penting dalam totalitasnya”.”

Guru sufi yang ketiga menjawab:

“Akan kuterangkan bahwa semua perbuatanmu itu menunjukkan “sebuah benda mati, bahkan sebuah ranting pengetahuan yang dipergunakan secara berulang-ulang, masih dapat mencelakakan benda-benda yang hidup”.”

Sang guru berkata:

“Kalian semua kuterima sebagai murid karena setiap orang di antara kalian memiliki penafsiran. Tak seorang pun di antara kalian mengetahui makna yang selengkapnya dan bersama-sama semua penafsiran-penafsiran kalian belumlah sempurna, namun masing-masing telah mengemukakan sebuah kebenaran.”

*) Yang dimaksudkan adalah Mir Alishan Nawai.

Tak Pernah Duduk Bertumpang Kaki Selama Hidup

Seorang sufi ternama, Ibrahim bin Adham, dikenal orang tak pernah duduk dengan menumpangkan kakinya. Seorang muridnya kehairanan dan bertanya, “Wahai Guru, mengapa kau tak pernah duduk dengan bertumpang kaki?”

“Aku pernah melakukan itu satu kali,” jawab Ibrahim, “Tapi kemudian aku dengar sebuah suara dari langit: Hai Anak Adham, apakah seorang hamba duduk seperti itu di hadapan tuannya?” Aku segera duduk tegak dan memohon ampun.”

Kisah Darwis Miskin dan Saudagar Yang Kaya

Pada suatu hari, seorang darwis sedang berdoa dengan khusyu. Seorang saudagar kaya mengamatinya dan tersentuh karena kekhusyuan dan ketulusan darwis itu. Kepada darwis itu, ia menawarkan sekantung penuh wang, “Aku tahu kau akan menggunakan wang ini di jalan Tuhan. Ambillah wang ini.”

“Sebentar,” jawab sang darwis, “aku tak yakin apakah aku berhak untuk mengambil wangmu. Apakah kau orang kaya? Apakah kau punya wang lebih di rumahmu?” “Oh, iya. Setidaknya aku punya seribu keping emas di rumahku,” saudagar itu mengakui dengan bangga.

“Apa kau ingin punya seribu keping emas lagi?” darwis itu bertanya. “Tentu saja. Setiap hari aku bekerja keras untuk mendapatkan lebih banyak lagi wang.”

“Dan setelah itu, apa kau ingin punya lebih banyak lagi ribuan keping emas?”

“Pasti. Setiap hari, aku berdoa agar aku dapat menghasilkan lebih banyak wang untukku.”

Darwis itu lalu menyerahkan sekantung keping emas kembali kepada saudagar. “Maaf, aku tak dapat mengambil emasmu,” jawab darwis itu, “seorang yang kaya tak berhak untuk mengambil wang dari seorang pengemis.”

“Bagaimana kau ini? Enak saja kau sebut dirimu orang kaya dan kau panggil aku pengemis!” saudagar itumarah-marah.

Sang darwis menjawab, “Aku adalah orang kaya karena aku puas dengan apa saja yang Tuhan berikan kepadaku. Sementara kau adalah pengemis, karena tidak peduli berapa banyak yang kau miliki, kau selalu tidak puas, dan selalu meminta lebih kepada Tuhan.”

Penderitaan Adalah Awal dari Pencerahan II

Seorang koki memasukkan buncis ke dalam kuali yang penuh minyak untuk dimasak. Buncis itu melompat-lompat kepanasan, ia meronta, meloncat ke tepi kuali dan berteriak, “Mengapa kau bakar aku? Tak cukupkah kau telah beli aku? Mengapa kau juga harus menyiksaku?”

Koki itu membenamkannya kembali ke dalam kuali dengan sendoknya dan berkata, “Tenanglah, mendidihlah engkau dengan baik! Jangan lompat terlalu jauh dari ia yang menyalakanmu. Aku tak merebusmu karena aku membencimu. Aku memasakmu agar kau menjadi lezat dan penuh cita rasa. Agar kau dapat menjadi makanan dan bersatu dengan kehidupan. Penderitaanmu tak disebabkan karena aku menghinakanmu! Ketika kau segar dan hijau, kau selalu meminum air di kebun. Kau meminum air itu untuk bersiap menghadapi api ini.”

Kasih sayang Tuhan lebih besar dari penderitaan yang Dia berikan. Kasih sayang-Nya senantiasa lebih besar dari murka-Nya. Kau dididihkan dalam penderitaan dan kesengsaraan, tiada lain agar ego dan eksistensi dirimu lenyap tak berbekas! Kau berubah menjadi makanan, kekuatan, dan fikiran yang luhur. Dahulu kau lemah, kini kau seperkasa singa hutan

Penderitaan Adalah Awal dari Pencerahan I

Suatu hari, seorang lelaki tengah memecah tanah dengan cangkul. Seorang lelaki lain yang bodoh datang kepadanya dan berteriak, “Hei, mengapa kau merusak tanah itu?”

“Tolol!” jawab si pencangkul, “Pergilah kau dan jangan ganggu aku! Mengertilah perbedaan antara penghancuran dan pertumbuhan. Bagaimana mungkin tanah ini berubah menjadi kebun mawar atau ladang gandum, bila sebelumnya tak kau pecah-pecah dan kau rusak? Bagaimana mungkin tanah ini menjadi petamanan yang penuh dengan dedaunan dan buah-buahan, bila sebelumnya tak kau hancurkan dan kau remukkan?

“Sebelum kau pecahkan bisulmu dengan pisau, bagaimana mungkin penyakitmu itu dapat sembuh? Sebelum tabib memulihkan kesehatanmu dengan obatnya yang pahit, bagaimana mungkin penyakitmu dapat hilang?

“Ketika seorang penjahit menggunting sepotong kain, sedikit demi sedikit, apakah ada orang yang mendatanginya dan berteriak: Mengapa kau rusak satin indah ini? Apa gunanya serpihan-serpihan kain satin? Ketika para tukang datang untuk memperbaiki bangunan tua, bukankah mereka memulai pekerjaan mereka dengan menghancurkan bangunan itu terlebih dahulu?

“Lihatlah para tukang kayu, pandai besi, atau tukang daging. Kau akan temukan bahwa penghancuran adalah awal dari pembaharuan. Penderitaan adalah awal dari pencerahan. Bila kau tak membiarkan biji-biji gandum itu untuk digiling, dari mana dapat kau peroleh roti untuk makananmu?”

KISAH RENCANA SEMUT DAN RENCANA CAPUNG

Seekor semut yang pikirannya tersusun dalam rencana teratur,
sedang mencari-cari madu ketika seekor capung hinggap
menghisap madu dari bunga itu. Capung itu melesat pergi
untuk kemudian datang kembali.

Kali ini Si Semut berkata,

“Kau ini hidup tanpa usaha, dan kau tak punya rencana.
Karena kau tak punya tujuan nyata ataupun kira-kira, apa
pula ciri utama hidupmu dan kapan pula berakhir?”

Kata Si Capung,

“Aku bahagia, dan aku mencari kesenangan, ini jelas ada dan
nyata. Tujuanku adalah tanpa tujuan. Kau boleh merencanakan
sekehendakmu; kau tak bisa meyakinkanku bahwa ada yang lebih
berharga daripada yang kulakukan ini. Kaulaksanakan saja
rencanamu, dan aku rencanaku.” Lagi

Kisah Seekor Gagak Yang Menyuapi Orang Yang Lagi Kelaparan

Pada satu saat, Malik bin Dinar pergi berhaji ke Mekkah. Di dalam perjalanan, ia melewati padang ilalang dan hutan belantara. Pada satu tempat, ia tertegun melihat seekor gagak yang terbang membawa sebongkah roti di paruhnya.

Malik menyaksikan burung gagak itu dengan rasa curiga. Ia merasa bahwa ada sesuatu di balik terbangnya burung gagak dengan sepotong roti. Karena itu, Malik mengikuti jejak burung itu. Sampailah ia di sebuah gua. Ia mendekat dan masuk mulut gua. Ia memandang sekilas isi gua itu. Ia terkejut, ternyata di dalam gua itu terdapat sesosok tubuh dengan tangan dan kaki yang terikat. Si gagak yang ia ikuti tengah memasukkan roti itu ke mulut orang yang terikat, sedikit demi sedikit. Setelah roti itu habis, gagak terbang kembali ke angkasa. Lagi

KISAH TIGA ORANG DARWIS MENCARI KEBENARAN DALAM

Konon, ada tiga orang darwis. Mereka bernama Yak, Do, dan Se. Mereka masing-masing berasal dari Utara, Barat, dan Selatan. Mereka memiliki suatu hal yang sama: berusaha mencari Kebenaran Dalam, oleh karenanya mereka mencari Jalan.

Yang pertama, Yak-Baba, duduk dan merenung sampai kepalanya pening. Yang kedua, Do-Aghas tegak dengan kepala di bawah sehingga kakinya kaku. Yang ketiga, Se-Kalandar, membaca buku-buku sampai hidungnya mengeluarkan darah.

Akhirnya mereka memutuskan untuk berusaha bersama-sama. Mereka mengundurkan diri ke tempat sunyi dan melakukan latihan bersama, mengharap agar ketiga kekuatan yang digabung akan cukup kuat untuk mendatangkan Kebenaran, yang mereka sebut Kebenaran Dalam.

Empat puluh hari empat puluh malam lamanya mereka bertahan menderita. Akhirnya, dalam pusaran asap putih muncullah kepala seorang lelaki yang sangat tua di hadapan mereka; tampaknya ia muncul dari tanah. “Apakah kau Kidir yang gaib itu, pemandu manusia?” tanya darwis pertama. “Bukan, ia Kutub, Tiang Semesta,” sahut yang kedua. “Aku yakin, itu pasti tak lain salah seorang dari para Abdal. Orang-orang Yang Terubah,” kata yang ketiga.

“Salah semua” teriak bayang-bayang itu keras-keras, “tetapi aku adalah apapun yang kau inginkan tentangku. Dan kini kalian menginginkan satu hal, yakni yang kau sebut Kebenaran Dalam?” Lagi

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 76 pengikut lainnya.