Kang Soleh Naik Becak Menuju Syurga

ADI NOVIANTO STEVENS
ilustrasi

Cerpen Rudi Setiawan

Pada hari penghisaban (penghitunngan atas amal perbuatan manusia) sedang mengantre empat orang manusia dengan berlainan profesi sewaktu masih hidup di dunia.

Manusia pertama bernama Alim, yang konon sewaktu masih hidup di dunia adalah seorang kyai yang sangat terkenal keluasan ilmunya dan kesalehan ibadahnya serta mempunyai ribuan santri.

Manusia kedua bernama Somad, yang mana sewaktu masih hidup di dunia berprofesi sebagai Kepala Desa yang sangat disayangi oleh warganya karena kejujuran dan keadilannya.

Manusia ketiga bernama Badri, dimana sewaktu hidupnya merupaka seorang juragan yang sangat kaya raya serta terkenal pula kedermawanannya dan kemurahan hatinya dalam menolong dan membantu orang-orang yang kesusahan.

Manusia keempat bernama Soleh, yaitu ketika hidupnya adalah merupakan seorang tukang becak yang biasa mangkal di terminal. Selengkapnya

MEREKA TOH TAK MUNGKIN MEMBIKIN MALAIKAT

Cerpen: Herman

Selembar perjalanan; secarik catatan; sekeranjang dosa. Manakah yang pertama kali ditanyakan kelak di akhirat?
Ada orang yang setiap selesai solat berjemaah menghitung pahalanya; kali ini duapuluh tujuh katanya. Lalu dia merasa telah menjadi malaikat. Ada yang tidak mau berjemaah tapi hanya menangis di rumahnya; aku malu padaNya bisiknya. Terlalu banyak dosa katanya, sehingga menghadap Tuhan pun malu. Dia merasa telah terkutuk dan menjelma iblis. Ada juga yang setelah selesai tahajjud; menangis kemudian tak henti-hentinya memohon ampunan. Mungkin inilah dia yang disebut manusia!
Seperti hari kemarin, saat ini penyesalan mesti datang kembali. Membuat semak-semak liar tempat bermain belalang dan serangga. Angin berkesiur. Belalang dan serangga berpegang semakin erat pada ranting-ranting. Di luar, burung-burung dara melibaskan diri dengan dzikir senja. Matahari memerah. Laut meredam marah. Nelayan-nelayan berangkat menantang keruh. Apakah badai dan pekat malam yang kau saksikan bukan keruh kehidupan? Tak mengapa! Bagi nelayan, badai dan pekat malam adalah nafas mereka.

*****
Malam berjalan sangat pelan. Gerimis yang rajin menyambangi bumi, kini telah terdengar kaki-kakinya di seng rumah. Ayam-ayam betina mendekap anak-anak mereka lebih kencang dan erat. Lolongan anjing, suara jangkrik, mengiringi cahaya-cahaya kilat yang menyambar. Seperti lampu disko di diskotek.
Alun-alun kota tak pernah sepi. Setiap pojok adalah tempat yang aman bagi sebuah perselingkuhan. Apakah yang bisa kau katakan, ketika melihat anak-anak jalanan yang mencoba meraih sebuah bahagia dengan melelapkan diri di trotoar jalan. Mimpi! Bahkan dalam mimpi pun, mereka tak pernah bisa makan kenyang. Ahai…dunia bagi mereka adalah ajang malapetaka. Tapi…tapi….ada rupa lain yang kini dipergunjingkan. Malaikat yang hendak membikin malaikat. Ahai…apakah memang ada beberapa Tuhan di alam ini, hingga semakin hari, jumlah malaikat semakin bertambah?
Selengkapnya

Ketika Bayazid Melanggar Aturan Agama

Bayazid, seorang Muslim yang suci, kadang-kadang dengan sengaja melanggar bentuk-bentuk lahir dan upacara agamanya.

Pada suatu hari, ketika ia pulang dari Mekah, ia singgah di kota Rey di Iran. Penduduk kota yang sangat menaruh hormat padanya, keluar mengelu-elukannya sampai seluruh kota menjadi gempar. Bayazid, yang sudah jenuh akan pendewaan serupa itu, menunggu hingga ia sampai di pinggir pasar. Di sana ia membeli sepotong roti, lalu mulai memakannya di muka umum. Padahal waktu itu bulan puasa. Akan tetapi Bayazid yakin, bahwa dalam perjalanan ia tidak terikat pada peraturan-peraturan agama.

Tetapi para pengikutnya tidak berpikir demikian. Maka mereka begitu dikecewakan oleh perbuatan itu, sehingga mereka semua segera meninggalkannya dan pulang. Bayazid dengan rasa puas berkata kepada salah seorang muridnya: ‘Lihat, begitu aku berbuat sesuatu yang berlawanan dengan harapan mereka, rasa hormat mereka terhadapku hilang lenyap.’

Jesus kerapkali sangat mengejutkan para pengikutnya dengan bertindak seperti itu juga.

Kebanyakan orang memerlukan seorang suci untuk disembah dan seorang guru untuk dimintai nasehat. Ada persetujuan diam-diam: ‘Engkau harus hidup sesuai dengan harapan kami, dan sebagai gantinya kami akan menghormatimu.’ ‘Permainan’ kesucian!

(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

Dua Keinginan Sebelum Maut Menjemput

Di keheningan malam, Sang Maut turun dari hadirat Tuhan menuju ke bumi. Ia terbang melayang-layang di atas sebuah kota dan mengamati seluruh penghuni dengan tatapan matanya. Ia menyaksikan jiwa-jiwa yang melayang-layang dengan sayap-sayap mereka, dan orang-orang yang terlena di dalam kekuasaan sang lelap.

Ketika rembulan tersungkur kaki langit, dan kota itu berubah warna menjadi hitam legam, Sang Maut berjalan dengan langkah tenang di tengah pemukiman — berhati-hati tidak menyentuh apapun — sampai tiba di sebuah istana. Dia masuk dan tak seorang pun kuasa menghalangi. Dia tegak di sisi sebuah ranjang dan menyentuh pelupuk matanya, dan orang yang tidur itu bangun dengan ketakutan.

Melihat bayangan Sang Maut di hadapannya, dia menjerit dengan suara ketakutan, “Menyingkirlah kau dariku, mimpi yang mengerikan! Pergilah engkau makhluk jahat! Siapakah engkau ini? Dan bagaimana mungkin kau masuk istana ini? Apa yang kau inginkan? Minggatlah, karena akulah empunya rumah ini. Enyahlah kamu, kalau tidak, kupanggil para budak dan para pengawal untuk mencincangmu menjadi kepingan!” Selengkapnya

Kisah Kucing dan Daging Kambing

Rumi bercerita; Alkisah, hiduplah seorang istri yang amat licik. Ia selalu menghabiskan setiap makanan yang dibawa oleh suaminya pulang, dan berbohong tentang hal itu.

Suatu saat, suaminya pulang dengan membawa daging kambing untuk dihidangkan kepada tamunya yang akan tiba. Suami itu telah bekerja selama dua ratus hari untuk boleh membeli daging mahal tersebut.

Ketika suaminya tidak di tempat, istri yang rakus itu segera memotong daging dan memasaknya menjadi kebab (sebuah hidangan khas Timur Tengah, -red.) Dan ia makan semua masakan itu, diselingi dengan minum anggur.

Suaminya datang ke rumah bersama tamu yang dijemputnya. “Daging itu dimakan kucing,” istrinya berbohong, “kalau kau masih punya wang, belilah lagi.”

Sang suami lalu meminta pelayan untuk membawakan timbangan dan kucing yang dituduh itu. Berat kucing itu adalah tiga kilogram. “Daging kambing itu beratnya tiga kilogram dan satu ons,” ujar suami itu sambil menggendong kucing, “kalau benda ini adalah kucing, lalu di mana daging kambingnya? Kalau benda ini adalah daging kambing, lalu di mana kucingnya? Carilah mana kucing itu, atau mana daging kambing itu!”

Rumi menutup cerita itu dengan menulis: Jika kau memiliki raga, lalu di mana ruhnya? Jka kau memiliki ruh, lalu di mana raganya?

Apakah Tuhan Menciptakan Kejahatan ?

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?
Apakah kejahatan itu ada?

Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?

Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, ‘Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?’.

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, ‘Betul, Dia yang menciptakan semuanya’.

‘Tuhan menciptakan semuanya?’
Tanya professor sekali lagi.

‘Ya, Pak, semuanya’ kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, ‘Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.’

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, ‘Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?’

‘Tentu saja,’ jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, ‘Profesor, apakah dingin itu ada?’
‘Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?’ Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya. Selengkapnya

Siapakah Yang Akan Mengabulkan Doa Orang Yang Berhajat?

Kisah seorang laki-laki yang yang terdepak dari pekerjaannya sehingga membuatnya bersedih hati alang kepalang, kemudian dia meminta pertolongan kepada beberapa orang terkemuka dan tokoh agar memberikan rekomendasi untuknya. Beberapa pintupun sempat diketuknya akan tetapi ada saja aral yang menghalanginya sehingga menambah penyesalan dan kegundahannya.

Atas kehendak Allah, dia bertemu dengan seorang tua yang bijak. Ketika itu, warna kulitnya pucat pasi dan badannya kurus kering akibat kesedihan dan kegundahan yang menimpanya tersebut. Tatkala si orang tua mellihat kondisinya tersebut, ibalah hatinya, lantas bertutur kepadanya,
“Bagaimana dengan kebutuhanmu?.”

“Demi Allah, hingga sekarang hajatku itu belum lagi putus dan sekarang aku masih mencari si fulan untuk bisa berbicara dengannya.” Jawabnya.

“Aku tahu, siapa yang bisa mencarikan solusi buatmu dan menghilangkan kegundahanmu itu.” kata si orang tua.

“Apakah orang yang tuan maksudkan itu punya pengaruh terhadap pejabat si fulan?.” Tanyanya.

“Ya, berpengaruh sekali.” Jawab si orang tua.

“Apakah kamu mengenalnya? Apakah kamu bisa berbicara dengannya?.” Tanya laki-laki itu lagi ingin lebih tahu.

“Ya, aku mengenalnya dan aku bisa melakukannya bahkan kamu sendiri bisa berbicara dengannya.” Kata orang tua.

“Demi Allah, tolong kamu berbicara dengannya, semoga Allah membalas kebaikanmu.” Kata si laki-laki itu lagi.

“Tidak, kamu sajalah yang berbicara langsung dengannya!.” Kata orang tua itu lagi. Selengkapnya

SEKANTONG KUE

Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam. Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba. Untuk membuang waktu,ia membeli buku dan sekantong kue di toko bandara, lalu menemukan tempat untuk duduk.

Sambil duduk wanita tersebut membaca buku yang baru saja dibelinya. Dalam keasyikannya tersebut ia melihat lelaki disebelahnya dengan begitu berani mengambil satu atau dua dari kue yang berada diantara mereka berdua.
Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan.
Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam. Sementara si Pencuri Kue yang pemberani menghabiskan persediaannya.

Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu. Wanita itupun sempat berpikir: (“Kalau aku bukan orang baik sudah kutonjok dia!”). Setiap ia mengambil satu kue, si lelaki jugamengambil satu.

Ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu. Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya dua. Si lelaki menawarkan separo miliknya sementara ia makan yang separonya lagi. Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir (“Ya ampun orang ini berani sekali”), dan ia juga kasar malah ia tidak kelihatan berterima kasih. Belum pernah rasanya ia begitu kesal. Selengkapnya

TIDAK BU, BARANG ITU BUKAN MILIK SAYA

Meli tak menyangka akan begini jadinya. Ia terus berlari dan berlari, menghindari kerumunan dan amukan massa di sekitar Jakarta Barat. Dari kejauhan terlihat jilatan api dari beberapa gedung dan sisa asap pembakaran mobil. Massa yang beringas – yang entah datang dari mana – bersorak sorai. Kemudian terdengar suara-suara sumbang penuh hasutan:”Cari Cina! Cari Cina!”

Beberapa mata mulai memandangnya. Meli bergidik. Beberapa mulai merasa menemukan sasaran. Meli menatap ke depan. Lengang, tak ada satu kendaraan pun yang bisa membawanya pergi dari tempat itu. Cemasnya menjadi-jadi. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Berlari sekuat-kuatnya? Masuk ke rumah penduduk? Mereka telah menutup pintu rapat-rapat tampa berani membukanya, setidaknya saat ini. Lalu? Matanya mulai nanar.

Tiba-tiba di antara bayangan kepulan asap, tampak seorang lelaki tua lusuh dengan sebuah sepeda kusam tua, menghampirinya.

“Ibu Cina, ya! Ibu mau kemana? Cepat naik ke sepeda saya, Bu! Cepat!!”

“Ojek sepeda ya…. Pak?”

Bapak dengan baju tambalan di sana sini itu mengangguk pelan. Tanpa berpikir panjang, Meli segera naik ke atas sepeda tersebut. Si lelaki tua mengayuh sepedanya kuat-kuat disertai peluh bercucuran yang membasahi bagian punggung bajunya, meninggalkan massa yang berpesta dalam amukan dan beberapa pasang mata liar yang urung mengejar mereka. Selengkapnya

RAJA MAHMUD DAN KACANG BUNCIS

Suatu hari, Raja Mahmud yang perkasa dari Ghazna pergi berburu, ia terpisah dari kelompoknya. Ia kemudian mendatangi asap yang berasal dari sebuah api kecil, di mana ia juga menemukan perempuan tua dengan belanganya.
Raja Mahmud berkata:
“Hari ini engkau mendapat tamu seorang raja, apa yang engkau masak di atas apimu?”
Perempuan tua itu menjawab, “Ini rebusan buncis.”
Raja Mahmud bertanya, “Wahai perempuan tua, maukah engkau memberiku sedikit?”
“Tidak,” jawab perempuan itu, “Karena ini hanya untukku. Kerajaanmu tidak berharga sebagaimana buncis-buncis ini. Engkau boleh saja menginginkan buncisku, tetapi aku tidak menginginkan apa pun yang engkau miliki. Buncis-buncisku bernilai seratus kali lipat daripada semua milikmu. Lihat musuh-musuhmu, yang berusaha mengambil alih milikmu. Aku bebas, dan memiliki kacang buncisku.”
Mahmud yang perkasa memandang pemilik kacang tersebut, memikirkan kekuasaannya yang dipersengketakan, dan menangis.

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 133 pengikut lainnya.