Bantahan terhadap Fatwa Qardhawi yang Bolehkan Ucapan Selamat Natal

Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi berfatwa membolehkan ucapan selamat hari raya agama non Islam, apabila orang-orang Nasrani atau non muslim lainnya adalah orang-orang yang cinta damai terhadap kaum muslimin, terlebih lagi apabila ada hubungan khusus seperti: kerabat, tetangga rumah, teman kuliah, teman kerja dan lainnya. Hal ini termasuk di dalam berbuat kebajikan yang tidak dilarang Allah SWT namun dicintai-Nya sebagaimana Dia SWT mencintai berbuat adil.

Artikel ini adalah bantahan dari Ustadz Abu Muhammad Jibriel Abdurrahman, pimpinan Majelis Ilmu Ar-Royyan, yang kami sadur dari website abujibriel.com: Lagi

Ucapan Selamat Natal dan Syubhat Akidah

Oleh: Muhammad Rifqi Arriza

SELAMA ini, posisi dan sikap para sahabat Nabi dan ulama terhadap hal-hal yang berkaitan dengan masalah akidah adalah jelas dan tegas, begitu pun kaitannya terhadap perayaan hari-hari besar agama lain, termasuk Natal.

Mengenai hal ini, ada dua pendapat; ada ulama yang memperbolehkan umat Islam utk mengucapkan “Selamat Natal”, dan ada sebagian ulama yang melarangnya. Setiap pendapat berlandaskan dalil-dalil yg kuat, baik itu al-Quran maupun Sunah.

Secara umum, perbedaan pendapat para ulama ini mengerucut kepada satu hal saja; apakah ucapan selamat bagi kaum kristiani yg merayakan Natal ini masuk ke dalam kategori akidah ataukah masih dalam koridor muamalah? Lagi

Hukum Menerima Hadiah dari Orang Kristen Pada Hari Natal

Oleh: Badrul Tamam

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada RasulullahShallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Sebentar lagi kaum kristiani akan merayakan hari besar mereka, ulang tahun kelahiran anak tuhan mereka. Berbagai pernak-pernik sudah banyak menghiasi di beberapa tempat perbelanjaan. Boleh jadi, kemeriahannya sama seperti saat hari raya kaum muslimin, Idul Fitri. Tidak berhenti di situ, berbagai event juga diadakan dalam rangka merayakan hari besar mereka. Dan terkadang di sela-sela acara ada pembagian hadiah baik berupa kue, roti, permen, atau lainnya. Lagi

Dialog Islam-Kristen Seputar Tahun Baru

Saya pernah bertanya kepada teman saya, di mana dia sendiri adalah orang Kristen. Kami berdiskusi, dia bertanya kepada saya tentang Islam dan saya bertanya kepada dia tentang Kristen. Kebetulan dia juga teman dekat saya, satu kampus. Kami berdiskusi siang dan malam, tentang Islam dan Kristen. Timbul didalam hati saya untuk bertanya kepada dia tentang Natal dan Tahun Baru apa yang mereka kerjakan.

Saya bertanya kepada dia, “Apa yang kalian lakukan ketika Natal dan Tahun Baru. Apakah sembahyang atau apa?”

Teman Saya orang Kristen tadi menjawab “Sama seperti kalian (umat Islam), kami pada hari Natal juga sembahyang.” Lagi

Hukum bersahabat dengan orang kafir

Tanya:

Kepada Syaikh yang saya hormati. Pertanyaan saya adalah: kalau dimisalkan boleh kaum muslimin bersahabat dengan orang-orang non muslim. Karena masalahnya saya tinggal di negeri yang tidak banyak kaum musliminnya. Sementara teman-teman saya dari kalangan non muslimin baik-baik. Hanya saja mereka banyak melakukan kemusyrikan. Kalau saya memutus hubungan persahabatan dengan mereka, bagaimana mereka akan dapat mengenal kebenaran dan memeluk ajaran Islam? Namun di sisi lain, kalau mereka tetap saja tidak memperhatikan hidayah Islam, apakah hubungan persahabatan kami boleh tetap berlangsung?

Jawab:

Al-Hamdulillah. Allah melarang kaum mukminin untuk menjadikan orang-orang Yahudi dan orang-orang kafir lainnya sebagai wali, baik dalam arti orang yang dicintai, dijadikan saudara, penolong, atau dijadikan sebagai sahabat karib, kalau mereka orang-orang kafir yang memerangi kaum muslimin. Allah berfirman:

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka denga pertolongan yang datang daripada-Nya.Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya.Mereka itulah golongan Allah.Ketahuilah, bhwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.”(QS.Al-Mujadilah : 22) Lagi

Apa Hukumnya Bepergian ke Negara Kafir?

Pertanyaan :

Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin ditanya : Apa hukumnya bepergian ke negeri orang kafir? Dan bagaimana hukumnya bepergian untuk tujuan piknik?

Jawaban:

Bepergian ke negeri orang kafir tidak diperbolehkan kecuali bila memenuhi tiga syarat:

Pertama, orang yang bepergian itu tahu sesuatu yang dapat menolak syubhat (keraguan).

Kedua, orang itu mempunyai agama yang dapat menahannya dari godaan syahwat.

Ketiga, dia memerlukan bepergian itu.

Jika ketiga syarat itu tidak terpenuhi maka dia tidak boleh pergi ke negeri orang-orang kafir karena dalam hal itu akan terjadi fitnah atau ditakutkan akan terjadi fitnah. Di samping itu akan banyak membuang-buang harta karena untuk berpergian itu dibutuhkan banyak uang.

Adapun jika bepergian itu untuk kepentingan yang mendesak seperti untuk berobat dan menuntut ilmu yang tidak ada di negerinya, sedangkan dia mempunyai agama dan ilmu sperti yang kami jelaskan tadi, maka ini hukumnya tidak apa-apa. Lagi

Hukum Seorang Muslim Bekerja Dengan Orang Kafir

Pertanyaan :

Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin   ditanya : Ya Syaikh, Ada Seorang Muslim Bekerja dengan Orang Kafir, Apa Nasihat Anda Untuknya?

Jawaban:

Saya anjurkan kepada orang itu agar dia mencari pekerjaan lain yang di dalamnya tidak ada musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya, serta tidak ada orang-orang yang tunduk kepada selain Islam. Jika mudah baginya mencari pekerjaan itu, itulah yang diharapkan, tetapi jika tidak mudah mencarinya maka tidak berdosa baginya tetap bekerja dengannya karena dia mengerjakan pekerjaannya sendiri, tetapi dengan syarat jangan sampai di dalam hatinya ada rasa cinta kepada mereka dan menjadikan mereka sebagai wali. Dia juga tidak boleh menerapkan apa yang ditetapkan syarat keapdanya, seperti mengucapkan salam dan menjawab salam. Begitu pula tidak boleh baginya, menghadiri dan merawat jenazahnya, tidak mengikuti perayaan hari rayanya, tidak mengucapkan selamat hari raya kepadany adan tetap berusaha untuk mengajaknya agar masuk Islam.

Sumber: Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin, Fatawa arkaanil Islam atau Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji, terj. Munirul Abidin, M.Ag. (Darul Falah 1426 H.), hlm. 197

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 137 pengikut lainnya.