BERHUTANG PADA CALON ISTRI UNTUK BAYAR MAHAR; APAKAH PERNIKAHAN SAH?

Pertanyaan :

Assalamualaikum. Pak, saya mau tanya. Bulan lalu saya menikah. Beberapa waktu sebelum menikah, pria calon suami saya meminjam uang kepada saya. Pada saat menikah, uang pinjaman itu dipakai untuk membayar mahar. Sekarang kami telah menikah. Tetapi sampai sekarang, pria itu (yang sekarang sudah menjadi suami saya) belum membayar hutang kepada saya. Apakah pernikahan kami sah? Apakah kami harus mengulang pernikahan? Terima kasih.

Rahayu, 0819814XXXX

Jawaban :

Sebelumnya kami ucapkan selamat atas pernikahan Ibu Rahayu. Semoga Ibu Rahayu dan suami bisa membentuk keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Amin.

Pria/suami wajib memberikan mahar (mas kawin) kepada wanita/istri. Wanita/istri berhak mendapatkan mahar tersebut. Mahar bermakna pemberian, bukan sebagai “harga beli” terhadap wanita yang akan dinikahi.

Dari Sahal bin Sa`ad bahwa nabi SAW didatangi seorang wanita yang berkata,”Ya Rasulullah kuserahkan diriku untukmu”, Wanita itu berdiri lama lalu berdirilah seorang laki-laki yang berkata,” Ya Rasulullah kawinkan dengan aku saja jika kamu tidak ingin menikahinya.” Rasulullah berkata, “Punyakah kamu sesuatu untuk dijadikan mahar? Dia berkata, “Tidak, kecuali hanya sarungku ini” Nabi menjawab,”Bila kau berikan sarungmu itu maka kau tidak akan punya sarung lagi, carilah sesuatu.” Dia berkata, “Aku tidak mendapatkan sesuatupun.” Rasulullah berkata, “Carilah walau cincin dari besi.” Dia mencarinya lagi dan tidak juga mendapatkan apa-apa. Lalu Nabi berkata lagi,” Apakah kamu menghafal qur`an?” Dia menjawab,”Ya surat ini dan itu” sambil menyebutkan surat yang dihafalnya. Berkatalah Nabi, “Aku telah menikahkan kalian berdua dengan mahar hafalan Quranmu.” (HR Bukhari Muslim).

Dari Amir bin Robi`ah bahwa seorang wanita dari bani Fazarah menikah dengan mas kawin sepasang sendal. Lalu Rasulullah SAW bertanya, Relakah kau dinikahi jiwa dan hartamu dengan sepasang sendal ini?” Ia menjawab,” Rela.” Maka Rasulullahpun membolehkannya. (HR Ahmad 3/445, Tirmidzi 113, Ibnu Madjah 1888).

Dari Anas bahwa Aba Thalhah meminang Ummu Sulaim lalu Ummu Sulaim berkata, “Demi Allah, lelaki sepertimu tidak mungkin ditolak lamarannya, sayangnya kamu kafir sedangkan saya muslimah. Tidak halal bagiku untuk menikah denganmu. Tapi kalau kamu masuk Islam, ke-Islamanmu bisa menjadi mahar untukku. Aku tidak akan menuntut lainnya.” Maka jadilah ke-Islaman Abu Thalhah sebagai mahar dalam pernikahannya itu. (HR Nasa`i 6/ 114).

Dari beberapa dalil di atas nampak jelas bahwa pria harus berusaha memberikan mahar kepada wanita. Mahar tidak harus berharga mahal. Apabila memang suami tidak mempunyai banyak harta, maka ia bisa memberikan mahar yang harganya tidak mahal. Bahkan kalau tidak punya harta apapun, ia bisa memberikan hafalan bacaan Al Quran.

Di sisi lain, wanita hendaknya tidak menuntut mahar yang tinggi sehingga memberatkan pihak pria.

Rasulullah bersabda :

Dari Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Nikah yang paling besar barokahnya itu adalah yang murah maharnya.” (HR Ahmad 6/145)

Anjuran untuk memperkecil bilangan mahar ini merupakan kemudahan sehingga para pemuda bisa segera menikah tanpa harus tertunda karena masalah harta.

Setelah mahar diberikan kepada istri, mahar adalah hak istri sepenuhnya. Akan tetapi, suami dan istri boleh memanfaatkan mahar tersebut bersama-sama.

Allah berfirman :

Berikanlah kepada para wanita (yang kalian nikahi) mahar (mas kawin)-nya sebagai pemberian yang disertai dengan kerelaan. Kemudian, jika mereka memberikan sebagiannya kepada kalian dengan senang hati, kalian boleh memakannya (sebagai makanan) yang sedap dan bermanfaat. (QS an-Nisâ’ [4]: 4)

Terkait pernikahan Ibu Rahayu. Tampaknya suami Ibu adalah salah satu korban sistem kapitalisme sekuler yang membuat banyak pemuda yang sudah berumur tidak mempunyai penghasilan yang layak, bahkan sampai kesulitan membayar mahar. Sistem yang diterapkan sekarang telah menjadikan jutaan rakyat Indonesia menjadi miskin sehingga banyak pemuda-pemuda yang terlambat menikah karena belum mampu mencari nafkah dengan hasil cukup untuk hidup berumah tangga. Di sisi lain, sistem kapitalis sekuler ini membuat banyak wanita muslimah menjadi terlambat mendapatkan jodoh karena tidak kunjung datang pemuda yang akan menikahinya. Akibat berikutnya, maraklah pacaran yang akhirnya menjerumuskan pada perilaku seks bebas (perzinaan) yang diharamkan Allah. Efek berantai selanjutnya, muncul berbagai kasus aborsi bayi yang juga diharamkan. Muncul juga penyebaran berbagai penyakit kelamin seperti AIDS yang mematikan.

Kapitalisme – sekularisme memang benar-benar sebuah sistem rusak yang menyengsarakan umat Islam baik di dunia juga di akhirat. Tiada kata lain selain lenyapkan sistem kapitalisme, ganti dengan sistem (ekonomi) Islam.

Kembali pada pembahasan pernikahan Ibu Rahayu. Memang calon suami yang meminjam sejumlah uang kepada wanita yang adalah calon istrinya sendiri adalah tidak lazim. Biasanya kalau si pria tersebut belum mempunyai uang, ia bisa meminjam kepada saudaranya atau temannya. Atau jika benar-benar tidak punya uang, ia bisa memberikan mahar yang harganya tidak mahal atau bahkan memberikan bacaan Al Quran sebagai mahar. Atau mahar yang hutang (tidak dibayar tunai).

Akan tetapi, walaupun tidak lazim, bukan berarti pernikahan tidak sah. Pria yang meminjam uang kepada Ibu Rahayu adalah terikat dengan suatu akad tersendiri. Sementara pernikahan adalah suatu akad yang lain. Jadi harus dipisahkan.

Sebagaimana urusan utang-piutang yang lain, pria yang meminjam uang itu tentu wajib membayar hutangnya kepada Ibu Rahayu. Selama belum melunasi hutang, si pria masih menanggung kewajiban tersebut.

Kalau di kemudian hari Ibu Rahayu bermaksud merelakan uang tersebut (tidak meminta dikembalikan) itu adalah boleh-boleh saja. Namun pria tersebut (yang kebetulan sekarang menjadi suami Ibu Rahayu) harus membuat akad baru kepada Ibu. Pria peminjam uang jangan langsung melupakan begitu saja karena dianggap sudah tahu-sama tahu (merelakan).

Dengan demikian, pernikahan Ibu Rahayu dengan suami adalah sah, dan tidak perlu mengulang akad nikah.

Saran kami untuk siapa saja yang akan menikah, sebaiknya calon suami jangan meminjam uang kepada wanita yang kebetulan calon istrinya. Bukankah mahar itu adalah pemberian kepada istri.

Semoga penjelasan ini bisa mencerahkan kehidupan rumah tangga Ibu Rahayu, juga kepada masyarakat umum lainnya. Dan marilah kita bersama-sama berjuang untuk menghancurkan sistem kapitalisme dan menggantinya dengan sistem syariah Islam yang akan menyejahterakan kita semua di dunia dan di akhirat. (Farid Ma’ruf; http://www.syariahpublications.com)

About these ads

4 Komentar (+add yours?)

  1. lukman
    Jan 24, 2011 @ 16:27:55

    asalamualaikum, ustad, pendapat anda sangat bermanfaat…

    Balas

  2. CAKRA
    Mei 30, 2011 @ 12:12:39

    Subhanallah,…
    ijin Share Akhi …

    Balas

  3. Acex
    Agu 10, 2011 @ 16:09:38

    Ana mau cepet nikah, tapi belum ada biaya……

    Balas

  4. Lia Imut
    Mar 10, 2012 @ 02:47:30

    ana jg mau cepat menikah tapi biaya yg kita kumpulkan juga belum cukup dan apa benar sesunggguhnya pernikahan yg baik dilihat dari kecocokan tanggal kelahiran kami? ana bingung ustad.. mohon dibantu utk solusinya

    Balas

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 133 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: