Aisyah r.ha. berkata, ” Ayahku, Abu Bakar, memiliki catatan berisi limaratus hadist yang telah ia kumpulkan. Pada suatu malam, aku melihatnya sangat gelisah dan berbaring membolak-balik badannya. Aku bertanya, ” Apakah engkau sakit, atau ada sesuatu yang membebani pikiranmu? “
Namun, pada malam itu ia tetap gelisah dan cemas. Keesokan harinya ia bertanya kepadaku, ” Dimanakah catatan hadistku yang pernah aku berikan kepadamu? ” Aku pun mengambilnya dan memberikan kepadanya. Ternyata ia membakar catatan itu. Aku bertanya, ” Mengapa dibakar? ” Ia menjawab, ” Aku ragu jika ada kekhilafan lalu aku meninggal, lalu mereka menganggapnya muktabar (dipercaya), padahal tidak, dan ternyata dalam catatan ini ada kesalahan, tentu hal itu akan mencelakanku. ” (Tadzkiratul Huffadz).
Dikutip dari Buku Himpunan Fadhilah Amal Karya : Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi Rah.a








