Doa Rasululllah di Medan Perang Badar

Mendengar saran sahabat Hubab bin Mundhir bin Jamuh begitu taktis dalam strategi Perang Badar, Rasulullah kontan menyetujuinya. Kepada pasukannya beliau berkata, “Saya ini juga manusia biasa seperti kalian. Segala sesuatu perlu dimusyawarahkan bagaimana sebaiknya, dan jangan sampai kita ngotot mempertahankan pendapat sendiri. Sebagai pemimpin, saya membutuhkan saran, usul dan kritik dari kalian,” kata beliau.

Selesai kolam air dibuat dan sumur-sumur lainnya ditimbun, sahabat lain Sa’ad bin Mu’adh mengusulkan, “Rasulullah, kami akan membuat tempat berkemah dari pelepah kurma untuk anda. Kami siapkan juga kuda tunggangan untuk anda. Setelah itu kita menyerbu musuh. Biarlah kami-kami yang menghadapi lawan. Jika Tuhan memberi kemenagan kepada kita, itulah yang kita harapkan. Namun jika keadaan berbalik, anda tak akan jatuh ke tangan musuh. Anda bisa lari dengan kuda itu menyusul pasukan di belakang. Percayalah, masih banyak pasukan di belakang yang setia kepada anda.

Mendengar saran itu, terharulah Rasulullah atas semangat dan kesetiaan mereka. Dan persis 17 Ramadhan, pertempuran sengit itu tak terelakkan. Dua kekuatan yang secara material sama sekali tak seimbang saling berhadapan. Seribu pasukan Quraisy yang bersenjatakan pimpinan Abu Jahal dan Abu Sufyan melawan 300 pasukan muslimin dengan perlengkapan 70 unta.

Dengan gigihnya, pasukan Islam termasuk Hamzah bin Abdul Muthallib, Ali bin Abi Thalib, Ubaidillah bin al Harits menyerang dengan pedang di tangan membabat lawan-lawan. Muahammad sendiri yang tinggal di danau maju ke depan. Tetapi karena kekuatan lawan tak sebanding ia kembali ke pondoknya ditemani Abu Bakar.

Saat itulah Rasulullah bermunajat kepada Allah, “Allaumma ya Allah, ini Quraisy datang dengan segala kecongkakannya, berusaha hendak mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, pertolongan-Mu juga yang Kau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan ini sekarang binasa, tidak ada lagi ibadat lagi kepada-Mu.”

Begitu khusyuknya Rasulullah berdoa, sampai mantelnya jatuh, yang kemudian dikenakan kembali oleh Abu Bakar. “Rasulullah, dengan doamu, Allah akan mengabulkan apa yang telah dijanjikan kepadamu,” kata Abu Bakar.

Setelah itu, Rasulullah keluar memotivasi pasukannya, “Demi Dia yang memegang hidup Muhammad. Setiap orang yang sekarang bertempur dengan tabah bertahan mati-matian, terus maju dan pantang mundur lalu tewas, adkhalahullahul jannah, Allah akan menempatkan mereka di surga.”

Mendengar seruan itu, pihak muslimin makin menyerbu ke depan. Meski kecil jumlahnya, jiwa mereka dipenuhi semangat jihad. Semangat itu, diperkuat dengan turunnya wahyu surat Al-Anfal ayat 17. “Sebenarnya bukanlah kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang telah membunuh mereka. Juga ketika kau melempar, sebenarnya bukan engkau yang melempar, melainkan Tuhan juga.”

Maka berakhirlah Perang Badar dengan kemenagan di pihak Islam meski jumlah mereka secara material sangat sedikit. Walau kecil, mereka mampu mengalahkan lawan yang jumlahnya tiga kali lipat, hanya karena pertolongan Allah semata. Dan itu juga berkat taktik dan strategi perang yang jitu atas saran para sahabat Nabi.

Agaknya, ada baiknya sebagai pemimpin perlu bertelinga lebar mau mendengarkan saran dan kritik umatnya.**

About these ads

Satu komentar (+add yours?)

  1. ananda patappa
    Nov 15, 2011 @ 08:31:13

    SEbaik -baiknya umat ialah selalu menyadari kemenangan dan pertolongan hanya datang dari Allah SWT

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 120 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: